Minggu, 20 November 2016

1. PT. Bangun Karta membutuhkan staff HRD yang professional dengan kualifikasi sebagai berikut:
-          Pria/ Wanita
-          Rajin, jujur, bertanggung jawab, dan inisiatif
-          Pendidikan minimal S1
-          Memahami scoring alat tes psikologi
-          Mampu bekerja tim atau individu
-          Memiliki kemampuan public speaking yang baik
Kirim lamaran ke : PT. Bangun Karta Jl. K. H Agus Salim No. 19 Blok C Bekasi Timur

Ø  Perusahaan PT. Las Maju Jaya membutuhkan tenaga akuntansi dengan persyaratan :
1.      Lai-laki/perempuan
2.      Pendidikan DIII/S1
3.      Usia maksimal 28 tahun dan belum menikah
4.      ‘pas photo 4x6 sebanyak 2 lembar
Kirimkan lamaran ke: PT. Las Maju Jaya Jl. Imam Bonjol No. 76 blok A Jakarta Utara

Ø  Dibutuhkan segera karyawan/ti secepatnya untk bekerja dibaian produksi dengan persyaratan sebagai berikut :
-          Min. lulusan SMA/SMK sederajat
-          Usia min 19 – 30 tahun
-          Rajin dan bertanggung jawab
-          Sehat jasmani dan rohani
-          Domisili kabupaten bekasi
Bagi ang berminat  silahkam kirim lamaran lengkap ditujukan kepada HRD/personalia atau bawa langsung ke : PT. Nusa Indah Jaya Kencana  Bekasi Utara no 52 blok B

2. 
  

3.      Kemunculan slogan "Apapun Makanannya, Minumnya Teh Botol Sosro" dilatarbelakangi oleh adanya produk Frestea dari Coca Cola yang perlahan merebut pasar Sosro. Dalam slogan ini Sosro berusaha mengubah kebiasaan konsumen, dari mereka yang setelah makan terbiasa minum air putih atau minuman lainnya, mulai diarahkan untuk mengkonsumsi Teh Botol Sosro setelah makan.
   Slogan tersebut cukup populer dan mengena di kalangan konsumen, akan tetapi, pada tahun 2008 Sosro kembali mengubah slogan menjadi "Apapun, Enaknya Minum Teh Botol Sosro". Hal ini dilakukan karena Sosro ingin memperkuat positioning produknya sebagai produk teh untuk siapa saja dengan aktivitas yang beragam.
   Meski demikian, banyak pihak merasa slogan lama mereka "Apapun Makanannya, Minumnya Teh Botol Sosro" adalah slogan yang paling mengena dan pas digunakan. Penggunaan slogan ini dinilai lebih spesifik dalam membidik konsumen untuk bertindak, yakni setelah makan, minuman yang paling cocok adalah Teh Botol Sosro.


Jumat, 07 Oktober 2016

Empowerment

    A.   DEFINISI EMPOWERMENT
Empowerment merupakan istilah yang cukup populer dalam bidang manajemen khususnya manajemen sumber daya manusia. Banyak penaksiran tentang empowerment,dan salah satu penaksiran yang dikenal oleh sebagian besar dari kita adalah empowerment sebagai pendelegasian wewegan dari atasan kepada bawahan.
Empowerment,yaitu menaktulsasikan potensi yang sudah dimiliki oleh masyarakat pendekatan pemberdayaan masyarakat yang demikian tentunya diharapkan memberikan peranan kepada individu bukan sebagai objek,tetapi sebagai pelaku atau aktor yang menetukan hidup mereka sendiri.
Secara umum pemerdayaan di definisikan sebagai suatu proses sosial multidimensional yang membantu penduduk untuk mengawasi kehidupannya sendiri.
Pemerdayaan itu merupakan suatu proses yang mempuk kekuasaan  pada individu,untuk penggunaan bagi kehidupan mereka sendiri,komunitas mereka,dengan berbuat mengenai norma-norma yang mereka tentukan ( page& czuba,1999 : 3)
Richard Carver, managing director dari coverdale organization mendefinisikan empowerment sebagai mendorong dan membolehkan seseorang untuk mengambil tanggung jawab pribadi untuk meningkatkan atau memperbaiki cara-cara menyelesaikan pekerjaan sehingga dapat memingkatkan kontribusi dalam pencapaian sasaran organisasi. Empowerment memerlukanpenciptaan budaya yang mendorong pegawai dalam setiap tingkatan untuk melakukan sesuatu yang berbeda dan membantu pegawai untuk percaya diri dan kemampuan untuk menentukan perubahan .
Selain pengertian yang telah disampaikan oleh Richard Carver, ada beberapa pengertian atau pe ahaman lain tentan empowerment . Namun semua definisi yang ada secara prinsip memiiki kesamaaan yaitu bahwa empowerment mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
a.      Adanya perlimpahan kewenangan dan tanggung jawab untuk membuat keputusan yang didukung oleh sumber daya yang memadai .
b.      Adanya penciptaan lingkungan agar pegawai dapat memanfaatkan kemampuan atau kompetensinya secara maksimum  untuk mencapai sasaran organisasi
c.       Adanya kontrol atas pelimpahan kewenangan dari manajemen.

B. KUNCI EFEKTIF EMPOWERMENT
Konsep pemberdayaan (empowerment), menurut Friedmann muncul karena adanya dua primise mayor, yaitu “kegagalan” dan “harapan”. Kegagalan yang dimaksud adalah gagalnya model pembangunan ekonomi dalam menanggulangi masalah kemiskinan dan lingkungan yang berkelanjutan, sedangkan harapan muncul karena adanya alternatif-alternatif pembangunan yang memasukkan nilai-nilai demokrasi, persamaan gender, peran antara generasi dan pertumbuhan ekonomi yang memadai. Dengan dasar pandangan demikian, maka pemberdayaan masyarakat erat kaitannya dengan peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan pada masyarakat, sehingga pemberdayaan masyarakat amat erat kaitannya dengan pemantapan, pembudayaan dan pengamalan demokrasi.A
Selanjutnya Friedmann dalam Prijono dan Pranaka (1996) menyatakan bahwa kekuatan aspek sosial ekonomi masyarakat menjadi akses terhadap dasar-dasar produksi tertentu suatu rumah tangga yaitu informasi, pengetahuan dan ketrampilan, partisipasi dalam organisasi dan sumber-sumber keuangan, ada korelasi yang positif, bila ekonomi rumah tangga tersebut meningkatk aksesnya pada dasar-dasar produksi maka akan meningkat pula tujuan yang dicapai peningkatan akses rumah tangga terhadap dasar-dasar kekayaan produktif mereka.




Empowerment

    A.   DEFINISI EMPOWERMENT
Empowerment merupakan istilah yang cukup populer dalam bidang manajemen khususnya manajemen sumber daya manusia. Banyak penaksiran tentang empowerment,dan salah satu penaksiran yang dikenal oleh sebagian besar dari kita adalah empowerment sebagai pendelegasian wewegan dari atasan kepada bawahan.
Empowerment,yaitu menaktulsasikan potensi yang sudah dimiliki oleh masyarakat pendekatan pemberdayaan masyarakat yang demikian tentunya diharapkan memberikan peranan kepada individu bukan sebagai objek,tetapi sebagai pelaku atau aktor yang menetukan hidup mereka sendiri.
Secara umum pemerdayaan di definisikan sebagai suatu proses sosial multidimensional yang membantu penduduk untuk mengawasi kehidupannya sendiri.
Pemerdayaan itu merupakan suatu proses yang mempuk kekuasaan  pada individu,untuk penggunaan bagi kehidupan mereka sendiri,komunitas mereka,dengan berbuat mengenai norma-norma yang mereka tentukan ( page& czuba,1999 : 3)
Richard Carver, managing director dari coverdale organization mendefinisikan empowerment sebagai mendorong dan membolehkan seseorang untuk mengambil tanggung jawab pribadi untuk meningkatkan atau memperbaiki cara-cara menyelesaikan pekerjaan sehingga dapat memingkatkan kontribusi dalam pencapaian sasaran organisasi. Empowerment memerlukanpenciptaan budaya yang mendorong pegawai dalam setiap tingkatan untuk melakukan sesuatu yang berbeda dan membantu pegawai untuk percaya diri dan kemampuan untuk menentukan perubahan .
Selain pengertian yang telah disampaikan oleh Richard Carver, ada beberapa pengertian atau pe ahaman lain tentan empowerment . Namun semua definisi yang ada secara prinsip memiiki kesamaaan yaitu bahwa empowerment mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
a.      Adanya perlimpahan kewenangan dan tanggung jawab untuk membuat keputusan yang didukung oleh sumber daya yang memadai .
b.      Adanya penciptaan lingkungan agar pegawai dapat memanfaatkan kemampuan atau kompetensinya secara maksimum  untuk mencapai sasaran organisasi
c.       Adanya kontrol atas pelimpahan kewenangan dari manajemen.

B. KUNCI EFEKTIF EMPOWERMENT
Konsep pemberdayaan (empowerment), menurut Friedmann muncul karena adanya dua primise mayor, yaitu “kegagalan” dan “harapan”. Kegagalan yang dimaksud adalah gagalnya model pembangunan ekonomi dalam menanggulangi masalah kemiskinan dan lingkungan yang berkelanjutan, sedangkan harapan muncul karena adanya alternatif-alternatif pembangunan yang memasukkan nilai-nilai demokrasi, persamaan gender, peran antara generasi dan pertumbuhan ekonomi yang memadai. Dengan dasar pandangan demikian, maka pemberdayaan masyarakat erat kaitannya dengan peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan pada masyarakat, sehingga pemberdayaan masyarakat amat erat kaitannya dengan pemantapan, pembudayaan dan pengamalan demokrasi.A
Selanjutnya Friedmann dalam Prijono dan Pranaka (1996) menyatakan bahwa kekuatan aspek sosial ekonomi masyarakat menjadi akses terhadap dasar-dasar produksi tertentu suatu rumah tangga yaitu informasi, pengetahuan dan ketrampilan, partisipasi dalam organisasi dan sumber-sumber keuangan, ada korelasi yang positif, bila ekonomi rumah tangga tersebut meningkatk aksesnya pada dasar-dasar produksi maka akan meningkat pula tujuan yang dicapai peningkatan akses rumah tangga terhadap dasar-dasar kekayaan produktif mereka.




DAFTAR PUSTAKA

Jumat, 17 Juni 2016

hubungan interpersonal

  A.      Hubungan Intrapersonal

1.        Model pertukaran sosial
Model pertukaran sosial ini memandang hubungan interpersonal sebagai
transaksi dagang .seseorang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan
sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya.
Thibault dan Kelley, dua orang pemuka dari teori ini menyimpulkan model
pertukaran sosial sebagai berikut:
“Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap
individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya
selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan
biaya.
Ganjaran yang dimaksud adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh
seseorang dari suatu hubungan.
 Contoh Ganjaran dapat berupa uang, penerimaan sosial, atau dukungan terhadap
nilai yang dipegangnya.
 Sedangkan yang dimaksud dengan biaya adalah akibat yang negatif yang terjadi
dalam
suatu hubungan.
Contoh : Biaya itu dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan
keruntuhan harga diri dan kondisi-kondisi lain yang dapat menimbulkan efek efek
tidak menyenangkan.

Transasional

Kata transaksi selalu mengacu pada proses pertukaran dalam suatu
hubungan. Dalam komunikasi antarpribadi pun dikenal transaksi. Yang dipertukarkan
adalah pesan-pesan baik verbal maupun nonverbal. Analisis transaksional
sebenarnya ber­tujuan untuk mengkaji secara mendalam proses transaksi (siapa-
­siapa yang terlibat di dalamnya dan pesan apa yang dipertukarkan).
Menurut teori analisis transaksional, ketika dua lebih orang bertemu, cepat atau
lambat; salah satu dari mereka akan menyapa atau memberikan indikasi lainnya atas
kehadiran orang lain. Hal ini disebut Stimulus Transaksional. Orang lain tersebut
kemudian akan mengatakan atau melakukan sesuatu yang berkaitan dengan
stimulus yang diterima.. Respon yang diberikan orang lain tersebut dinamai
Tanggapan Transaksional. Orang yang menyampaikan stimulus disebut “agen” dan
orang yang merespon disebut “Responden”.

2.       Pembentukan kesan dan ketertarikan intrapersonal dalam memulai hubungan
Tahap ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan.
Peneliti telah menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan.
·         Fase pertama fase kontak permulaan
Ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari
reaksi kawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali secepatnya identitas,
sikap dan nilai pihak yang lain. bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah
dilakukan proses mengungkapkan diri. Menurut Charles R. Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh kategori, yaitu:
a)      Informasi demografis
b)      Sikap danpendapat (tentang orang atau objek)
c)       Rencana yang akan dating
d)      Kepribadian
e)      Perilaku pada masa lalu
f)       Orang lain
g)      Hobi dan minat
·         Fase peneguhan
Karena hubungan interpersonal tidak bersifat statis ,selalu berubah ,perubahan
maka untuk memeihara dan memperteguh hubungan interpersonal ,maka di
perlukan adanya tindakan –tindakan tertentu untuk mengembalikannya adanya
keseimbangan.
Ada empat faktor penting dalam memelihara keseimbangan ini, yaitu
   a)       Keakraban
   b)      Control 
   c)       Respon yang tepat dan
   d)      Nada emosional yang tepat.
·         Fase kekraban
Keakraban merupakan pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang. Hubungan
interpersonal akan terperlihara apabila kedua belah pihak sepakat tentang tingkat
keakraban yang diperlukan.
·         Fase kesepakatan
Tentang siapa yang akan mengontrol siapa, dan bilamana. Jika dua orang
mempunyai pendapat yang berbeda sebelum mengambil kesimpulan, siapakah yang
harus berbicara lebih banyak, siapa yang menentukan, dan siapakah yang dominan.
Konflik terjadi umumnya bila masing-masing ingin berkuasa, atau tidak ada pihak
yang mau mengalah.

3.       Menjelaskan model peran, konflik dan Adequacy Peran, serta autentisitas dalam
hubungan peran
Model Peran menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung
sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah
yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila
setiap individu bertindak sesuai dengan peranannya.
Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain
karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara
duaorang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik
interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku
organisasi. Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari
beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempngaruhi proses
pencapaian tujuan organisasi tersebut.
Adequacy Peran dan Autentisitas Dalam Hubungan Peran. Kecukupan
perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan
baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada preskripsi
(ketentuan) dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus
lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka
sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut.

4.       Intimasi dan Hubungan Pribadi
Sebagai konsekuensi adanya daya tarik menyebabkan interaksi sosial antar
individu menjadi spesifik atau terjalin hubungan intim. Orang-orang tertentu menjadi
istimewa buat kita, sedangkan orang lain tidak. Orang-orang tertentu menjadi sangat
dekat dengan kita, dibandingkan orang lain. Adapun bentik intim terdiri dari
persaudaraan, persahabatan, dan percintaan. Lebih jauh mengenai bentuk-bentuk
hubungan intim tersebut dapat dijelaskan pada bagian berikut :
·         Persaudaraan
Hubungan intik ini didasarkan pada hubungan darah. Hunungan intim interpersonal
dalam persaudaraan terdapat hubungan inti ssperti dalam keluarga kecil. Pada
persaudaraan itu didlamnya terkandung proximitas dan keakraban.
·         Persahabatan
Persahabatan biasanya terjadi pada dua individu yang didasarkan pada
banyak persamaan. Utamanya persamaan usia. Hubungan dalam persahabatan tidak
hanya sekedar teman, lebih dari itu diantara mereka terjalin interaksi yang sangat
tinggi sehingga mempunyai kedekatan psikologis. Indikasi atau tanda-tanda bila
dalam hubungan interpersonal terjadi persahabatan yaitu : sering bertemu, merasa
bebas membuka diri, bebasmenyatakan emosi, dan saling tergantung diantara
mereka.
·         Percintaan
Persabatan antar priab dan wanita bisa berubah mejadi cinta, jika dua individu
itu merasa sebagai pasangan yang potensial seksual. Dalam suatu persahabatan,
dapat melahirkan satu proses yang namanya jatuh cinta. Hal ini terjadi karena ada
dua perbedaan mendasar antara persahabatan dan cinta.

  B.      Cinta dan Perkawinan

Cinta adalah suatu istilah yang jarang disebut oleh lisan, tetapi hanya terlihat
melalui gejala-gejalanya tang terpendam di relung-relung jiwa orang yang
bersangkutan. Cinta adalah perasaan jiwa, getaran hati, pancaran naluri, dan
terpautnya hati orang yang mencintai pada pihak yang dicintainya, dengan semangat
yang menggelora dan wajah yang selalu menampilkan keceriaan. Cinta dalam
pengertian seperti ini merupakan perasaan mendasar dalam diri manusia, yang tidak
bisa terlepas dan merupakan sesuatu yang esensial. Dalam banyak kesempatan,
cinta muncul untuk mengontrol keinginan kearah yang lebih baik dan positif. Hal ini
dapat terjadi jika orang yang mencintai menjadikan cintanya sebagai sarana untuk
meraih hasil yang baik dan mulia guna meraih kehidupan sebagaimana kehidupan
orang-orang pilihan dan suci serta orang-orang yang bertaqwa dan selalu berbuat
baik.
Pada dasarnya manusia terpanggil untuk hidup berpasang-pasangan.
Manusia dapat menemukan makna hidupnya dalam perkawinan. Sebagian orang
menganggap bahwa perkawinan membatasi kebebasannya, tetapi bagaimanapun
sebagian besar dari kita dapat mengakui bahwa perkawinan memberikan jaminan
ketenteraman hidup.
Crooks & Baur dalam bukunya, Our Sexuality (1990), menyebutkan beberapa
alasan mengapa seseorang memilih untuk melanjutkan hidupnya dalam lembaga
perkawinan. Alasan-alasan tersebut adalah:
·         Untuk memberikan suatu bentuk perasaan yang sifatnya menetap tentang
bagaimana memiliki seseorang dan menjadi milik seseorang serta perasaan
dibutuhkan orang lain.
·         Keyakinan bahwa kedekatan dan kepercayaan dalam perkawinan dapat membawa
suatu bentuk hubungan yang lebih kaya dan mendalam sifatnya.
·         Untuk dapat melakukan dan mendapatkan hubungan seks yang sifatnya legal dan
wajar secara norma sosial.
·         Harapan bahwa mereka akan semakin memahami kebutuhan pasangannya,dan
hubungan yang tercipta semakin harmonis seiring dengan semakin dalamnya
pengetahuan akan pasangannya. Hal ini jelas tidak cukup didapatkan bila dilalui
hanya dalam konteks hubungan percintaan saja (date relationship).
·         Mendapatkan beberapa keuntungan secara keuangan dan hukum yang bisa
diperoleh dalam pernikahan.

Kunci Pernikahan yang Sehat dan Langgeng

·         Komunikasi
Yang dimaksud bukan sekadar berbicara, tapi juga mendengarkan. Bila
Anda sudah mulai malas mendengarkan pasangan berbicara, berarti Anda
telah kehilangan komunikasi.Tunjukkan sikap yang baik dalam berkomunikasi,
yaitu mendengarkan pasangan berbicara sampai selesai, sebelum Anda
mengutarakan pendapat Anda sendiri. Ingat, perkawinan adalah timbal-balik
di antara dua orang. Semua pihak ingin punya kesempatan berbicara dan hak
untuk didengar.
·         Kejujuran
Banyak pasangan mengaku, kejujuranlah yang membuat perkawinan
mereka bertahan lama. Memang, mengakui dengan jujur kesalahan dan
kekhilafan, tak jarang pahit didengarkan, tapi kejujuran akan menyelamatkan
hubungan.
·         Saling Menghargai
Hubungan perkawinan yang sukses memandang pasangannya sederajat
(equal). Jalani perkawinan dengan saling menghargai satu sama lain.
·         Saling Percaya
Jangan menghabiskan pikiran untuk terus-terusan tegang dan curiga pada
pasangan. Jika suami terlambat pulang dengan alasan lalu-lintas macet, buat
apa selalu menjadikannya
bahan kecurigaan. Janganlah kecurigaan kecil menjadi ancaman dalam perkawinan.
·         Pasangan Adalah Teman
pasangan Anda sebagai teman saat suka dan duka, sebab cinta
yang awet membutuhkan persahabatan, bukan sekadar emosi.
·         Humor
Percintaan yang diselingi humor akan menyejukkan suasana. Jangan ragu
untuk tertawa bersama pasangan, termasuk menertawakan hal-hal yang
remeh sekalipun.
  C.      Pekerjaan dan Waktu Luang

           a.       Pekerjaan
Pekerjaan dinilai sebagai kegiatan manusia yang diarahkan untuk kemajuan
manusia, baik kemajuan rohani maupun jasmani. Pekerjaan memerlukan pemikiran
yang sadar sehingga bisa dengan bebas dapat mengarahkan kegiatannya kepada
suatu tujuan tertentu. Dan tujuan yang dicari dalam pekerjaan yaitu menjadikan
pekerja menjadi “baik”,, baik disini maksudnya adalah menjadikan pekerja lebih
terpenuhi kebutuhan hidupnya an keluarganya, dan mereka menghindari aktifitas
mereka yang menjadikan mereka “buruk”. Dan disini atasan pun berperan penting
dalam mengubah sikap karyawan mereka agar dapat bekerja lebih keras dan
mencapai kinerja pekerjaan yang lebih tinggi. Karyawan diusahakan supaya
menyukai pekerjaan yang ia dapatkan agar dapat menghasilkan kinerja yang baik.
Manajer dalam mengubah sikap karyawan juga harus memiliki kemampuan yang
tepat, misalnya diberi bonus jika bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
Diberikan reward dan punishment kepada karyawan tersebut, sehingga
memunculkan sikap take and give.
Apa yang dicari dalam pekerjaan
·         Mencari uang.
Hal ini adalah hal yang paling dasar yang mendorong seseorang untuk
bekerja. Untuk mencari nafkah (uang), untuk mencukupi kebutuhannya dan
keluarga.
Hal ini juga yang biasa digunakan sebagai pertimbangan dalam memilih suatu
pekerjaan. Semakin besar gaji (uang) yang ditawarkan oleh pekerjaan
tersebut, maka semakin menarik perkerjaan itu. Banyak orang yang
berpindah-pindah kerja untuk mencari gaji yang lebih tinggi.
·         Mencari pengembangan diri
Adalah tabiat manusia untuk ingin berkembang menjadi lebih baik. Orang
bekerja karena mereka ingin mencari pengembangan (potensi) diri mereka.
Mereka akan mencari pekerjaan dimana mereka dapat mengembangkan diri
mereka disana.
Pekerjaan dengan jenjang karir bagus dimana berarti ada peluang
pengembangan diri selalu menjadi incaran. Pertimbangan yang lain adalah
korelasi pekerjaan dengan bidang keilmuan dan minat mereka.
Keseusaian ini akan mempermudah dalam pekerjaannya, dan sebagai salah
satu bentuk pengembangan diri mereka.
·         Mencari teman/sarana bersosialisasi
Manusia adalah makhluk sosial yang perlu untuk bersosialisasi. Maka
manusia perlu bekerja untuk menambah teman dan relasi mereka. Sebagai
media dan tempat mereka untuk bersosialisasi.
Dalam hal ini faktor yang menjadi pertimbangan adalah lingkungan kerja dan
juga rekan kerja. Lingkungan kerja yang nyaman dan rekan kerja yang
kooperatif menjadi pertimbangan seseorang dalam memilih suatu
perkerjaan.
·         Mencari kebanggaan/kehormatan diri
Hal lain yang dicari oleh orang dengan bekerja adalah kebanggaan dan
kehormatan diri. Orang yang mencukupi kebutuhan dirinya dengan bekerja
lebih terhormat dibandingkan orang yang tergantung pada orang lain.
Pada beberapa orang, kehormatan diri juga bergantung dari jenis pekerjaan,
tempat kerja dan nama perusahaan. Ada orang yang merasa lebih terhormat
dengan bekerja sebagai pegawai kantoran. Dan ada juga orang yang bangga
dengan bekerja di perusahaan top.
·         Sebagai sarana beribadah
Hal ini saya yakini ada dan dimiliki orang, walau mungkin jarang terpikirkan
sebagai hal yang dicari dalam bekerja. Sebagai orang yang beriman memang
seharusnya setiap tindakan kita di dunia harus dimaknai sebagai ibadah.
Namun kesadaran yang berbeda-beda membuat pemaknaan yang berbeda
bagi tiap orang orang. Kerja yang terbaik, menurut saya, adalah pekerjaan
yang memberi peluang paling besar bagi kita untuk beribadah. Baik lewat
proses pekerjaan itu sendiri, lewat pergaulan di tempat kerja, atau lewat hasil
kerjanya.

           b.       Waktu Luang
Waktu luang adalah waktu sela diantara waktu yang diperuntukkan bagi
pekerjaan utama. Tidak ada yang suka bekerja sepanjang waktu. Sebagian besar dari
kita menginginkan pergi ke sendiri dan dengan keluarga kita. Istilah tradisional yang
digunakan untuk waktu tidak bekerja seperti itu liburan, secara harfiah berarti “waktu
off bekerja atau tugas.” Kebanyakan dari kita berpikir bahwa kita memiliki waktu
luang lebih baik. Namun peningkatan waktu luang sekarang menimbulkan masalah
bagi banyak orang.
Bagi sebagian orang, waktu luang adalah waktu untuk beristirahat atau waktu yang
terbebas dari kegiatan yang mangikat sehari hari seperti pekerjaan, sekolah dan
kegiatan rutin lainnya. Bagi sebagian orang waktu luang adalah saat yang bagus untuk
bertemu dan bersilaturahmi bersama keluarga atau bersosialisasi. Bagi sebagian
lainnya lagi, waktu luang sama dengan waktu kreatif.

Menggunakan waktu luang secara positif
Banyak hal yang dapat dilakukan saat waktu luang, hal yang paling umum
dilakukan seseorang saat waktu luang adalah pergi berlibur ke tempat tempat wisata
atau pergi berkumpul bersama teman ataj keluarga, tak banyak dari mereka juga
memanfaatkan waktu luang dengan cara meluapkan ide kreatif mereka ke dalam
tulisan ataupun dengan gambar dan menghasilkan karya yang positif dan juga dapat
menghasilkan pendapatan.
Kebanyakan orang menghabiskan begitu banyak waktu luang dan kegiatan di
tempat kerja, antara 30 dan 40 jam per minggu rata-rata. Hobby juga menjadi salah
satu cara yang positif untuk menghabiskan waktu luang seperti berolahraga, bermain
musik, dan berkumpul dengan komunitas komunitas tertentu. untuk saya sendiri biasanya saya menggunakan waktu luang dengan membantu orang tua dirumah. karena pekerjaan rumah tangga saya adalah wiraswasta jadi lebih baik membantu kedua orang tua saya.

Sumber :
Aronson ,Elliot .(2005).social psychology .upper saddle river :person prentice hall.                 
Hall, S Calvin., Lindzey , Gardner., (2009). teori - teori psikodinamika, yogyakarta:kanisius.
Alam, Andi Sjamsu, 2006, Usia Ideal untuk Kawin, Sebuah Ikhtiar Mewujudkan Keluarga Sakinah, Kencana Mas Publishing House, Jakarta
http://psikologi.or.id/mycontents/uploads/2010/11/hubinterpersonal.pdf
HR. Al-Bukhari (no. 5076) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1404) kitab an-Nikaah, Ahmad (no. 3642) lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no.7832).
http://ulfahindahkusumaningrum.blogspot.co.id/2015/05/pekerjaan-dan-
waktu-luang.html


Minggu, 29 Mei 2016

Penyesuaian Diri, Pertumbuhan & Stress

Penyesuaian Diri, Pertumbuhan & Stress

1.   Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan
Penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamik yang hampir selalu membutuhkan perubahan dan adaptasi, dan dengan demikian semakin tetap dan tidak merubah respon – respon itu, maka semakin sulit juga menangani tuntutan-tuntutan yang berubah. Kenyataan ini menjelaskan pengaruh-pengaruh yang menghancurkan kepribadian seseorang. Orang yang mengalami depresi karena sering kali merasa sulit menyesuaikan diri dengan pola tingkah laku yang di perlukan.
Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjustment ataupersonal adjustment. Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery). Pada mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation), padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh seseorang akan berdampak juga pada pertumbuhan personalnya. Jika seseorang dapat menyesuaikan diri dengan baik di lingkungan sekitarnya apalagi di lingkungan baru, maka pertumbuhan personalnya juga akan mengalami peningkatan. Sekarang, apa itu pertumbuhan personal? Pertumbuhan adalah proses yang mencakup pertambahan dalam jumlah dan ukuran, keluasan dan kedalaman. Prof. Gessel mengatakan, bahwa pertumbuhan pribadi manusia adalah proses yang terus-menerus. Semua pertumbuhan terjadi berdasarkan pertumbuhan yang terjadi sebelumnya.
Perbedaan antara adaptasi dan penyesuaian diri?     Adaptasi itu artinya adalah individu melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan, contohnya adalah apabila seorang individu merasa udara disekitar nya dingin maka individu itu segera memakai pakaian yang tebal dan meminum atau memakan makanan yang hangat-hangat.
Lalu apabila Penyesuaian itu sebagai mengubah lingkungan agar lebih sesuai dengan diri individu., contohnya apabila individu merasa kedinginan secara otomatis individu itu menyalakan api atau penghangat ruangan untuk mengahngatkan badannya.
Namun Penyesuaian diri disini adalah meliputi penyesuaian diri baik dalam adaptation dan adjusment. artinya individu mampu menyesuaikan diri dengan baik, secara normal dan ideal nya mampu menggunakan kedua mekanisme penyesuaian diri tersebut secara fleksibel tergantung pada suasana dan situasinya. Apabila individu itu hanya dapat menggunakan salah satu dari kedua mekanisme tersebut berarti individu itu di anggap kaku dan dominan.
Ada beberapa ciri penyesuaian diri yang efektif, seperti :
1. Memiliki Persepsi yang Akurat terhadap Realita
2. Memiliki Kemampuan untuk Beradaptasi dengan Tekanan atau Stres dan juga Kecemasan
3. Mempunyai Gambaran Diri yang Positif tentang dirinya
4. Memiliki Kemampuan untuk Mengekspresikan Perasaannya
5. Mempunyai kemapuan Relasi Interpersonal yang baik
Individu yang memiliki serta memenuhi ciri-ciri tersebut dapat digolongkan sebagai individu yang memiliki kesehatan mental yang positif.
·         Aspek-aspek Penyesuaian Diri
Pada dasarnya penyesuaian diri memiliki dua aspek yaitu: penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial. Untuk lebih jelasnya kedua aspek tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
   1.      Penyesuaian Pribadi
Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya Sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dan mampu bertindak obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut. Keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai dengan tidak adanya rasa benci, lari dari kenyataan atau tanggungjawab, dongkol. kecewa,  atau tidak percaya pada kondisi dirinya. Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya kegoncangan atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, rasa kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya. Sebaliknya kegagalan penyesuaian pribadi ditandai dengan keguncangan emosi, kecemasan, ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya, sebagai akibat adanya gap antara individu dengan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungan. Gap inilah yang menjadi sumber terjadinya konflik yang kemudian terwujud dalam rasa takut dan kecemasan, sehingga untuk meredakannya individu harus melakukan penyesuaian diri.
   2.      Penyesuaian Sosial
Setiap iindividu hidup di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat tersebut terdapat proses saling  mempengaruhi satu sama lain silih berganti. Dari proses tersebut timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan, hukum, adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup sehari-hari.  Dalam bidang ilmu psikologi sosial, proses ini dikenal dengan proses penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman atau masyarakat luas secara umum. Dalam hal ini individu dan masyarakat sebenarnya sama-sama memberikan dampak bagi komunitas. Individu menyerap berbagai informasi, budaya dan adat istiadat yang ada, sementara  komunitas (masyarakat) diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oleh sang individu. Apa yang diserap atau dipelajari individu dalam poroses interaksi dengan masyarakat masih belum cukup untuk menyempurnakan penyesuaian sosial yang memungkinkan individu untuk mencapai penyesuaian pribadi dan sosial dengan cukup baik. Proses berikutnya yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma-norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. Setiap masyarakat biasanya memiliki aturan yang tersusun dengan sejumlah ketentuan dan norma atau nilai-nilai tertentu yang mengatur hubungan individu dengan kelompok.  Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu mematuhinya sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok. Kedua hal tersebut merupakan proses pertumbuhan kemampuan individu dalam rangka penyesuaian sosial untuk menahan dan mengendalikan diri. Pertumbuhan kemampuan ketika mengalami proses penyesuaian sosial, berfungsi seperti pengawas yang mengatur kehidupan sosial dan kejiwaan. Boleh jadi hal inilah yang dikatakan Freud sebagai hati nurani (super ego), yang berusaha mengendalikan kehidupan individu dari segi penerimaan dan kerelaannya terhadap beberapa pola perilaku yang disukai dan diterima oleh masyarakat, serta menolak dan menjauhi hal-hal yang tidak diterima oleh masyarakat.
·         Pembentukan Penyesuaian Diri
Banyak faktor yang mempegaruhi penyesuaian diri, ada dari faktor lingkungan keluarga dan lingkungan teman sebaya.
   A.    Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga merupakan lahan untuk mengembangkan berbagai kemampuan, yang dipelajari dalam berbagai hal seperti melalu bermain, sandiwara, interaksi dengan anggota keluarga, dan pengalaman-pengalaman didalam keluarga. Oleh sebab itu, orangtua sebaiknya jangan menghadapkan individu pada hal-hal yang tidak dimengerti. Keluarga juga merupakan wadah pembentukan karakter individu, penyesuaian diri juga termasuk di dalamnya.
   B.     Lingkungan Teman Sebaya
Sama seperti lingkungan keluarga, lingkungan teman sebaya juga merupakan lingkungan yang sangat menentukan individu dalam melakukan dan mengembangkan penyesuaian diri. Bila seorang anak dapat dengan mudah menyesuaikan dirinya dengan lingkungan teman bermainnya, itu merupakan  salah satu alasan bahwa sebenarnya kesehatan mental individu tersebut baik dan sehat.

2.      Pertumbuhan Personal
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses-proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal yang sehat pada waktu yang normal. Proff Gessel mengatakan bahwa pertumbuhan pribadi manusia berlangsung secara terus-menerus.
  ü  Proses Pertumbuhan Individu secara fisik 
Dari bayi hingga tua kita sebagai manusia normal mengalami pertumbuhan secara terus menerus. Penyesuaian diri dengan lingkungan nya pun terus berkembang.
  ü  Variasi dalam Pertumbuhan
Dalam variasi pertumbuhan memang sangat beragam. Tidak semua individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri berdasarkan tingkatan usia, pertumbuhan fisik, maupun sosial nya. Mengapa? karena terkadang terdapat rintangan-rintangan yang menyebabkan ketidakberhasilan individu dalam melakukan penyesuaian, baik rintangan itu dari dalam diri atau dari luar diri.
  ü  Kondisi-Kondisi untuk Bertumbuh
Kondisi jasmani  seperti pembawa atau konstitusi fisik dan tempramen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembangannya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh, kondisi jasmani dan kondisi pertumbuhan fisik memang sangat mempengaruhi bagaimana individu dapat menyesuaikan diri nya.
Carl Roger (1961) menyebutkan 3 aspek yang memfasilitasi pertumbuhan personal dalam suatu hubungan :
       1.      Keikhlasan kemampuan untuk menyadari perasaan sendiri, atau menyadari kenyataan. 
       2.      Menghormati keterpisahan dari orang lain tanpa kecuali, dan
       3.      Keinginan yang terus menerus untuk memahami atau berempati terhadap orang lain.
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan personal :
           1)      Faktor biologis
Karakteristik anggota tubuh yang berbeda setiap orang, kepribadian, atau warisan biologis yang sangat kental.
           2)      Faktor geografis
Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorangdan nantinya akan menentukan baik atau tidaknya pertumbuhan personal seseorang.
           3)      Faktor budaya
Tidak di pungkiri kebudayaan juga berpengaruh penting dalam kepribadian seseorang, tetapi bukan berarti setiap orang dengan kebudayaan yang sama memiliki kepribadian yang sama juga.
Selain itu, ada satu hal yang tidak kalah penting berkaitan dengan penyesuaian diri dan pertumbuhan personal adalah komunikasi. Dengan kemampuan komunikasi yang baik maka penyesuaian diri dan pertumbuhan personal seseorang juga akan berjalan baik.

Ø  Fenomenologi pertumbuhan
      Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap, orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. “Alam pengalaman setia orang berbeda dari alam pengalaman orang lain.” (Brouwer, 1983:14 Fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan-tulisan Carl Rogers, yang boleh disebut sebagai-_Bapak Psikologi Humanistik. Carl Rogers menggarisbesarkan pandangan Humanisme sebagai berikut (kita pinjam dengan sedikit perubahan dari Coleman dan Hammen, 1974:33):

 v  STRESS

   1.      Pengertian Stress.
Stres adalah suatu kondisi anda yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting.Stres adalah beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat.
Stres tidak selalu buruk, walaupun biasanya dibahas dalam konteks negatif, karena stres memiliki nilai positif ketika menjadi peluang saat menawarkan potensi hasil. Sebagai contoh, banyak profesional memandang tekanan berupa beban kerja yang berat dan tenggat waktu yang mepet sebagai tantangan positif yang menaikkan mutu pekerjaan mereka dan kepuasan yang mereka dapatkan dari pekerjaan mereka.
Stres bisa positif dan bisa negatif. Para peneliti berpendapat bahwa stres tantangan, atau stres yang menyertai tantangan di lingkungankerja, beroperasi sangat berbeda dari stres hambatan, atau stres yang menghalangi dalam mencapai tujuan. Meskipun riset mengenai stres tantangan dan stres hambatan baru tahap permulaan, bukti awal menunjukan bahwa stres tantangan memiliki banyak implikasi yang lebih sedikit negatifnya dibanding stres hambatan.

   2.      Efek-efek dari stress
Pada Tubuh
Pada Perasaan
Pada Perilaku
·         Sakit kepala
·         Ketegangan nyeri otot
·         Nyeri dada
·         Kelelahan
·         Perubahan dalam Gairah Seks
·         Gangguan perut
·         Masalah Tidur
·         Kecemasan
·         Gelisah
·         Kurangnya Motovasi atau Fokus
·         Lekas Marah
·         Kesedihan atau Depresi
·         Kurangnya nafsu makan atau malah makan berlebihan
·         Kemarahan yang meledak
·         Penyalahgunaan obat atau alcohol
·         Penarikan social
·         merokok
   3.      Faktor-faktor penyebab stress
    
           ·         Faktor lingkungan
Selain memengaruhi desain struktur sebuah organisasi, ketidakpastian lingkungan juga memengaruhi tingkat stres para karyawan dan organisasi Perubahan dalam siklus bisnis menciptakan ketidakpastian ekonomi, misalnya, ketika kelangsungan pekerjaan terancam maka seseorang mulai khawatir ekonomi akan memburuk.
           ·         Faktor organisasi
Banyak faktor di dalam organisasi yang dapat menyebabkan stres. Tekanan untuk menghindari kesalahaan atau menyelesaikan tugas dalam waktu yang mepet, beban kerja yang berlebihan, atasan yang selalu menuntut dan tidak peka, dan rekan kerja yang tidak menyenangkan adalah beberapa di antaranya. Hal ini dapat mengelompokkan faktor-faktor ini menjadi tuntutan tugas, peran, dan antarpribadi.

Ø  Faktor-faktor Penyebab Stres Kerja (Stressor) Karyawan
Stres kerja yang dialami seseorang dipengaruhi oleh faktor penyebab stres baik yang berasal dari dalam pekerjaan maupun dari luar pekerjaan. Faktor penyebab stres kerja yang dibahas dalam penelitian ini hanya faktor organisasional, yakni faktor yang berasal dari dalam pekerjaan yang mencakup tuntutan tugas, tuntutan peran, tuntutan hubungan antarpribadi, struktur organisasi, kepemimpinan organisasi, dan tahap hidup organisasi.
Tuntutan tugas adalah faktor yang terkait dengan pekerjaan seseorang. Tuntutan tersebut meliputi desain pekerjaan individual, kondisi kerja, dan tata letak fisik pekerjaan. Sebagai contoh, bekerja di ruangan yang terlalu sesak atau di lokasi yang selalu terganggu oleh suara bising dapat meningkatkan kecemasan dan stres. Dengan semakin pentingnya layanan pelanggan, pekerjaan yang menuntut faktor emosional bisa menjadi sumber stres.
Tuntutan peran berkaitan dengan tekanan yang diberikan kepada seseorang sebagai fungsi dari peran tertentu yang dimainkannya dalam organisasi. Konflik peran menciptakan ekspektasi yang mungkin sulit untuk diselesaikan atau dipenuhi.
Tuntutan antarpribadi adalah tekanan yang diciptakan oleh karyawan.Tidak adanya dukungan dari kolega dan hubungan antarpribadi yang buruk dapat meyebabkan stres, terutama di antara para karyawan yang memiliki kebutuhan sosial yang tinggi.
           ·         Faktor pribadi
Faktor-faktor pribadi terdiri dari masalah keluarga, masalah ekonomi pribadi, serta kepribadian dan karakter yang melekat dalam diri seseorang.
Survei nasional secara konsisten menunjukkan bahwa orang sangat mementingkan hubungan keluarga dan pribadi. berbagai kesulitan dalam hidup perkawinan, retaknya hubungan, dan kesulitan masalah disiplin dengan anak-anak adalah beberapa contoh masalah hubungan yang menciptakan stres.
Masalah ekonomi karena pola hidup yang lebih besar pasak daripada tiang adalah kendala pribadi lain yang menciptakan stres bagi karyawan dan mengganggu konsentrasi kerja karyawan. Studi terhadap tiga organisasi yang berbeda menunjukkan bahwa gejala-gejala stres yang dilaporkan sebelum memulai pekerjaan sebagian besar merupakan varians dari berbagai gejala stres yang dilaporkan sembilan bulan kemudian. Hal ini membawa para peneliti pada kesimpulan bahwa sebagian orang memiliki kecenderungan kecenderungan inheren untuk mengaksentuasi aspek-aspek negatif dunia secara umum. Jika kesimpulan ini benar, faktor individual yang secara signifikan memengaruhi stres adalah sifat dasar seseorang. Artinya, gejala stres yang diekspresikan pada pekerjaan bisa jadi sebenarnya berasal dari kepribadian orang itu.

   4.      Tipe-tipe Stress
            a.      Stres baik
            Stres tidak hanya dipicu sepenuhnya oleh pengalaman negatif. Bahkan, pengalaman positif                 juga dapat membawa stres, seperti upacara kelulusan atau pernikahan. Namun, tipe stres                     seperti ini dalam dosis kecil sebenarnya baik untuk sistem imun kita. Selain itu, tipe stres ini               juga dapat membuat banyak orang lebih mudah untuk menciptakan tujuan dan menikmati                   proses mencapainya dengan penuh energi.
           b.      Distres internal
Ini adalah tipe stres yang buruk. Distres merupakan tipe stres negatif hasil dari pengalaman buruk, ancaman, atau perubahan situasi yang tidak terduga dan tidak nyaman. Pada dasarnya, tubuh kita menginginkan rasa aman sehingga apabila rasa tersebut terusik, tubuh pun mengalami distres.
           c.       Distres akut

           Distres akut terjadi ketika seseorang mengalami distres yang dipicu oleh peristiwa buruk yang            berlalu dengan cepat. Sementara stres kronik terjadi ketika seseorang harus menahan stres                    dalam waktu yang lama. Kedua tipe stres tadi akan memicu timbulnya hiperstres.
           d.      Hipostres
Ternyata hari-hari tanpa kekhawatiran dan tantangan juga dapat memicu tipe stres lainnya, yaitu hipostres. Hipostres merupakan "ketidakadaan" stres, tetapi bisa juga diartikan kebosanan yang ekstrem. Seseorang yang mengalami hipostres mungkin merasa tidak tertantang, tidak memiliki motivasi untuk melakukan apa pun. Hipostres dapat memicu perasaan depresi dan kesia-siaan.
           e.       Eustres
Eustres merupakan stres yang sangat berguna lantaran dapat membuat tubuh menjadi lebih waspada. Eustres membuat tubuh dan pikiran menjadi siap untuk menghadapi banyak tantangan, bahkan bisa tanpa disadari. Tipe stres ini dapat membantu memberi kekuatan dan menentukan keputusan, contohnya menemukan solusi untuk masalah.

5.      Pengalaman Stress
Ya, saya pernah mengalami stress. Yang disebabkan oleh faktor keluarga biasanya. Saat saya merasakan stress maka pertama saya akan pergi dari rumah terlebih dahulu untuk menyendiri. Kedua mencari teman yang saya anggap nyaman, seperti sahabat/teman. Ketiga muter-muter ga jelas.


Sumber:
Fatimah, N. (2006). Psikologi perkembangan. Bandung : Pusaka Setia.
Ali, M. & Asrori, M. (2005). Psikologi remaja perkembangan peserta didik. Jakarta : PT Bumi Aksar
Christensen.j.paula.2009.proses keperawatan.buku kedokteran EGC : Jakarta
http://health.kompas.com/read/2013/06/26/1256093/5.Jenis.Stres.yang.Perlu.Anda.Tahu