A.
Konsep Sehat
1.
Konsep sehat berdasarkan
·
Emosi
emosi adalah reaksi kompleks yang mengandung tingkatan
aktivitas yang tinggi, dan diikuti perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan
dengan perasaan yang kuat. sehat secara emosional adalah kemampuan seseorang
untuk mengekspresikan emosinya seperti marah, senang, sedih, takut,
benci,bosan.
·
Intelektual
berhubungan dengan kecerdasan dalam berfikir. dimana kita
mampu untuk berfikir dalam mengolah informasi dengan baik dan memecahkan
masalah yang dihadapi.
·
Sosial
sehat secara sosial adalah sehat dalam bersosialisasi dengan
masyarakat dan lingkungan sekitar tanpa membedakan bedakan ras, agama,
suku, status sosial sehingga dapat hidup bersama dengan damai.
·
Fisik
Sehat jasmani merupakan komponen penting dalam arti sehat
seutuhnya,berupa sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih, mata
bersinar,rambut tersisir rapi, berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas
tidak bau,selera makan baik, tidur nyenyak, gesit dan seluruh fungsi fisiologi
tubuh berjalan normal.
·
Spiritual
Spiritual merupakan komponen tambahan pada definisi sehat
oleh WHO dan memiliki arti penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Setiap
individu perlu mendapat pendidikan formal maupun informal, kesempatan untuk
berlibur,mendengar alunan lagu dan musik, siraman rohani seperti ceramah
agama danlainnya agar terjadi keseimbangan jiwa yang dinamis dan tidak
monoton.
2.
Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
Sejarah kesehatan mental tidaklah
sejelas sejarah ilmu kedokteran. Ini terutama karena masalah mental bukan
merupakan masalah fisik yang dapat diamati dan terliahat. Berdbeda dengan
gangguan fisik yang dapat dengan relative mudah dideteksi, orang yang mengalami
gangguan kesahatan mental sering kali tidak dideteksi. Sekalipun oleh anggota
keluarganya sendiri. Hal ini lebih karena mereka sehari-hari hidup bersama
sehingga tingkah laku yang mengindikasikan gangguan mental dianggap hal biasa, bukan
sebagai gangguan
Ø Zaman Prasejarah
Manusia purba sering menglami gangguan mental atau fisik,
seperti infeksi, arthritis, penyakit pernapasan dan usus, serta penyempitan
pembuluh darah. Tetapi manusia purba benar-benar beusaha mengatasi penyakit
mental. Ia memandang dan merawatnya sama seperti halnya dengan penyakit fisik
lainnya.
Tetapi sungguh menggembirakan karena pasien sakit mental
tetap diperlakukan secra manusiawi. Dalam perkembangan selanjutnya pada waktu
sejarah mulai tercatat walaupun ada beberapa pengecualian peradaban-peradaban
manusia di tandai dengan penganiayaan terhadap para pasien sakit mental seperti
diperlakukan dengan kasar dan kejam serta mereka dipandang sebagai pengganggu
masyarakat. Lagi pula dewasa ini orang kadang-kadang memperlakukan para pasien
mental tanp belas kasihan dibandinkan dengan orang-orang zaman purba.
Para pendahulu psikiater dan psilokog kita muncul pada zaman
purba. Penyakit mental tentu ssaja merupakan bagian dari bidang praktek mereka.
Sering kali dukun-dukun ini merupakan para cendikiawan yang lebih baik dari
kelompok. Lagi pula hubungan antara agama dan penyakit mental lebih erat
dibandingkan dengan hubungan antar agama dan penyakit lain.
Ø Zaman Pradaban Awal
Dalam semua peradaban awal yang kita
kenal di Mesopotamia, mesir, yahudi, india, cina dan benua amerika, imam-imam,
tukang sihir merawat orang yang sakit mental. Diantara semua peradaban tersebut
sepanjang zaman kuno penyakit mental mulai menjadi hal yang umum. Bersama dngan
penderita-penderita lain, kekalutan-kekalutan mental menjadi kawan seperjalanan
yang setia bagi manusia padad waktu ia bergerak menuju kehidupan yang
teorganisir. Ilmu kedokteran menjadi lebih terorganisir waktu
peradaban-peradaban menjadi lebih maju.
Ø Zaman Renaissesus
Pada aman ini di beberapa Negara
eropa, para tokoh keagamaan, ilmu kedokteran dan filsafat mulai menyangkal
anggapan bahwa pasien sakit mental tenggelam dalam dunia tahayul. Abad XVII –
XX
Ø Psikiatri
Pada tahun 1800an adalah uaha untuk
menolong para pasien sakit mental, tetapi pada akhir abad itu dokter-dokter
belum menemukan penyebab-penyebab atau pencegahan, penyembuhan atau perawatan yang
efektif terhadap penyakit mental meskipun mereka telah mengklasifikasikan
beribu ribu macam keklutan mental. Kemajuan yang meliputi banyak hal pada
bidang medis lain membuka peluang pikiran orang terhadap kemungkinan yang
semakin banyak dan diantaranya dapat dimasukan pengertian bahwa kesehatan
mental/penyakit metal merupakan masalah yag dipecahkan secara ilmiah dan medis.
Sebelum abad ke 19 perkembangan dalam kesehatan mental terjadi pada 4 bidang
umum; perlakuan teerhadap pasien akit mental yag lbih manusiawi dan rasional
oleh masyarakat, lagkah-langkah untuk memperbaiki lembaga-lembaga untuk
penyakit mental dan praktek-praktek yang mereeka lakukan, perhatian para
penulis besar dan filsuf yang berpegaruh terhadap psikologi dan dampaknya
meluas ke zaman kita.
3.
Pendekatan Kesehatan Mental Meliputi
a.
Orientasi Klasik
merujuk pada Kesadaran tentang perlunya perlakuan yang lebih
manusiawi terhadap penyandang gangguan mental, tetapi dalam arti sempit dapat
diartikan sebagai kajian ilmu kesehatan mental lebih diperuntukkan bagi orang
yang mengalami gangguan & penyakit jiwa .
b.
Orientasi Penyesuaian Diri
Mengacu pada kemampuan individu untuk
menyesuaikan diri dengan tuntutan diri sendiri & norma sosial. Ukuran
sehat secara mental didasarkan juga pada hubungan antara individu dengan
lingkungannya. Orang yang sehat secara psikologis adalah orang yang mampu
mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan orang lain serta lingkungan
sekitarnya. Penentuan derajat kesehatan mental bukan hanya dilihat berdasarkan
jiwanya tetapi juga dengan proses perkembangan dalam lingkungannya.
c.
Orientasi Perkembangan Potensi
Setiap orang memiliki kekuatan positif & korektif
Pelepasan sumber-sumber yang tersembunyi dari bakat, kreativitas, Energi dan
dorongan (Schultz, 991) Keharmonisan antara pikiran dan perasaan dapat
mebuat tidakan seseorang tampak matang dan wajar, dalam mencapai beberapa taraf
kesehatan jiwa, jika seseorang dapat kesemoatan untuk mengembangkan
potensialitasnya menuju kedewasaan, bisa menghargai dirinya sendiri dan bisa di
hargai oleh orang lain
B.
Teori Kepribadian Sehat
1.
Aliran Psikoanalisis
Sigmund
Freud (1856-1939) merupakan pendiri psikoanalisis. Menurut Freud
pikiran-pikiran yang direpres atau ditekan, merupakan sumber perilaku yang
tidak normal atau menyimpang.
Sumbangan
terbesar Freud pada teori kepribadian adalah eksplorasinya ke dalam dunia tidak
sadar dan keyakinannya bahwa manusia termotivasi oleh dorongan-dorongan utama
yang belum atau tidak mereka sadari. Bagi Freud, kehidupan mental terbagi
menjadi dua tingkat, alam tidak sadar dan alam sadar. Alam tidak sadar
terbagi menjadi dua tingkat, alam tidak sadar dan alam bawah sadar.
Dalam
psikologi Freudian, ketiga tingkat kehidupan mental ini dipahami, baik sebagai
proses maupun lokasi. Tentu saja, keberadaan lokasi dari ketiga tingkat tersebut
bersifat hipotesis dan tidak nyata ada di dalam tubuh. Sekalipun demikian,
ketika membahas alam tidak sadar, Freud melihatnya sebagai suatu alam
tidak sadar sekaligus proses terjadi tanpa disadari.
Alam Tidak Sadar
Alam
tidak sadar (unconscious) menjadi tempat bagi segala dorongan, desakan maupun
insting yang tak kita sadari tetapi ternyata mendorong perkataan, perasaan dan
tindakan kita. Sekalipun kita sadar akan perilaku kita yang nyata, sering kali
kita tidak menyadari proses mental yang ada dibalik perilaku tersebut. Misalnya
seorang pria bisa saja mengetahui bahwa ia tertarik pada seorang wanita tetapi
tidak benar-benar memahami alasan dibalik ketertarikannya, yang bisa saja
bersifat tidak rasional.
Dorongan
tidak sadar ini muncul di alam bawah sadar setelah menjalani transformasi
tertentu. Contohnya, seseorang dapat mengekspresikan dorongan erotis atau
keinginan untuk melukai orang lain dengan cara menggoga atau mengolok-olok
orang lain. Dorongan sejati (seks atau agresi) menjadi terselubung dan tersembunyi
dari alam sadar kedua orang tersebut. Akan tetapi, alam tidak sadar orang kedua
secara langsung. Keduanya dapat memuaskan dorongan seksual maupun agresif,
tetapi tak satupun di antara mereka menyadari motif di balik godaan atau
olok-olok tersebut. Dengan cara inilah, alam tidak sadar seseorang bisa
berkomunikasi dengan alam tidak sadar dari orang lain, keduanya sama-sama tidak
sadar akan proses tersebut.
Tentu
saja, alam tidak sadar bukan berarti tidak aktif atau dorman. Dorongan-dorongan
di alam tidak sadar terus-menerus berupaya agar disadari, dan kebanyakan
berhasil masuk ke alam sadar, sekalipun tak lagi muncul dalam bentuk asli.
Pikiran-pikiran yang tak disadari ini bisa dan memang memotivasi manusia.
Contohnya, amarah sseorang anak terhadap sang ayah bisa terselubung dalam
bentuk kasih sayang yang berlebihan. Apabila tak bisa disembunyikan, rasa marah
seperti ini sudah tentu akan menyebabkan si anak merasa sangat cemas. Oleh
karena itu, alam bawah sadarnya memotivasinya untuk mengekspresikan rasa marah
melalui ungkapan rasa cinta dan pujian yang berlebihan. Agar selubung itu
benar-benar berhasil mengelabui orang tersebut, maka sering kali perasaan
tersebut muncul dalam bentuk yang sama sekali berbeda dengan perasaan yang
sebenarnya, tetapi selalu muncul dalam bentuk yang berlebihan dan penuh
kepura-puraan. (Mekanisme ini dikenal dengan pembentukan
reaksi (reaction formation) yang akan dibahas secara terpisah
dibagian berjudul Mekanisme Pertahanan (Defense Mechanism) yang terdiri dari
represi (repression), pembentukan reaksi (reaction formation), pengalihan
(displacement), fiksasi (fixation), regresi (regression), proyeksi
(projection), introyeksi (introjection), dan sublimasi (sublimation).
Alam Bawah Sadar
Alam
bawah sadar (preconscious) ini memuat semua elemen yang tak disadari, tetapi
bisa muncul kesadaran dengan cepat atau agak sukar (Freud, 1993/1964). Isi alam
bawah sadar ini datang dari dua sumber, yang pertama adalah persepsi sadar
(conscious perception). Apa yang dipersepsikan orang secara sadar dalam waktu
singkat, akan segera masuk ke dalam alam bawah sadar selagi fokus perhatian
beralih ke pemikiran lain.
Sumber
kedua dari gambaran-gambaran bawah sadar adalah alam tidak sadar. Sedangkan
sejumlah gambaran lain dari alam tidak sadar bisa masuk ke alam sadar karena
bersembunyi dengan baik dalam bentuk mimpi, salah ucap, ataupun dalam bentuk
pertahanan diri yang kuat.
Alam Sadar
Alam
sadar (conscious), yang memainkan peran tak berarti dalam teori psikoanalisis,
didefinisikan sebagai elemen-elemen mental yang setiap saat berada dalam
kesadaran. Ini adalah satu-satunya tingkat kehidupan mental yang bisa langsung
kita raih. Ada dua pintu yang dapat dilalui oleh pikiran agar bisa masuk ke
alam sadar yaitu sistem kesadaran perseptual (perceptual conscious), yaitu
terbuka pada dunia luar dan berfungsi sebagai perantara bagi persepsi kita
tentang stimulus dari luar.
Sumber
kedua bagi elemen alam sadar ini datang dari dalam struktur mental dan mencakup
gagasan-gagasan tidak mengancam yang datang dari alam bawah sadar maupun
gambaran-gambaran yang membuat cemas, tetapi terselubung dengan rapi yang
berasal dari alam tidak sadar.
2.
Aliran Behavioristik
Behaviorisme atau Aliran Perilaku (juga disebut Perspektif
Belajar) adalah filosofi dalam psikologi yang berdasar pada proposisi bahwa
semua yang dilakukan organisme — termasuk tindakan, pikiran, atau perasaan—
dapat dan harus dianggap sebagai perilaku. Aliran ini berpendapat bahwa
perilaku demikian dapat digambarkan secara ilmiah tanpa melihat peristiwa
fisiologis internal atau konstrak hipotetis seperti pikiran. Behaviorisme
beranggapan bahwa semua teori harus memiliki dasar yang bisa diamati tapi tidak
ada perbedaan antara proses yang dapat diamati secara publik (seperti tindakan)
dengan proses yang diamati secara pribadi (seperti pikiran dan perasaan).
Teori-teori behavioristik adalah proses belajar serta peranan
lingkungan yang merupakan kondisi langsung belajar dalam menjelaskan perilaku.
Semua bentuk tingkah laku manusia adalah hasil belajar yang bersifat mekanistik
lewat proses penguatan. Pendekatan behavioristik terhadap kepribadian memiliki
dua asumsi dasar, yaitu:
1. Perilaku harus dijelaskan dalam
pengaruh kausal lingkungan terhadap diri individu.
2. Pemahaman terhadap manusia harus
dibangun berdasarkan riset ilmiah objektif à dikontrol dengan seksama dalam
eksperimen laboratorium
Manusia dianalogikan atau dianggap sebagai tikus pintar yang
mempelajari labirin kehidupan. Behavioristik memiliki pandangan tentang
kehendak bebas yaitu perilaku yang ditentukan oleh lingkungan.
Tokoh-tokoh terkenal tentang masalah ini diantaranya adalah:
1. Ivan Pavlov
2. Edward Lee Thorndike
3. John B. Watson
4. B.F. Skinner
3.
Aliran Humanistik
Abraham Maslow
(1908-1970) dapat dipandang sebagai Bapak dari psikologi humanistik. Gerakan
ini merasa tidak puas terhadap psikologi behavioristik dan psikoanalisis, dan
memfokuskan penelitiannya pada manusia dengan ciri-ciri eksistensinya.
Psikologi humanistik
mulai di Amerika Serikat pada tahun 1950 dan terus berkembang. Tokoh-tokoh
Psikologi Humanistik memandang behavorisme mendehumanisasi manusia.
Psikologi Humanistik mengarahkan perhatiannya pada humanisasi psikologi yang
menekankan keunikan manusia. Menurut Psikologi Humanistik manusia adalah
makhluk kreatif, yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya
sendiri bukan oleh kekuatan-kekuatan ketidaksadaran.
Maslow menjadi terkenal
karena teori motivasinya, yang dituangkan dalam bukunya “Motivation and
Personality”. Dalam buku tersebut diuraikan bahwa pada manusia terdapat lima
macam kebutuhan yang berhirarki, meliputi:
1)
Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the physiological needs)
2)
Kebutuhan-kebutuhan rasa aman (the safety needs / the security needs)
3)
Kebutuhan rasacinta dan memiliki (the love and belongingness needs)
4)
Kebutuhan akan penghargaan diri (the self-esteem needs)
5)
Kebutuhan akan aktualisasi diri (the self-actualization needs)
Menurut Maslow psikologi
harus lebih manusiawi, yaitu lebih memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah
kemanusian. Ada empat ciri psikologi yang berorientasi humanistik, yaitu:
a)
Memusatkan perhatian pada person yang mengalami, dan karenanya
berfokus pada pengalaman sebagai fenomena primer dalam mempelajari manusia.
b)
Memberi tekanan pada kualitas-kualitas yang khas manusia, seperti kreativitas,
aktualisasi diri, sebagai lawan pandangan tentang manusia
yang mekanistis dan reduksionis.
c)
Menyadarkan diri pada kebermaknaan dalam memilih masalah-masalah yang akan
dipelajari dan prosedur-prosedur penelitian yang akan digunakan.
d)
Memberikan perhatian penuh dan meletakkan nilai yang tinggi pada kemuliaan dan
martabat manusia serta tertarik pada perkembangan potensi yang inheren pada
setiap individu (Misiak dan Sexton, 1988). Selain Maslow sebagai tokoh dalam psikologi
humanistik, juga Carl Rogers (1902-1987) yang terkenal
dengan client-centered therapy (Walgito, B 2002 : 80).
·
Yang Membedakan Aliran Psikoanalisa,
Behavioristik, Humanistic tentang Kepribadian Sehat.
1. Aliran Psikoanalisa berdasarkan pada pikiran sebagai
subjek psikologi, sementara Behavioristik berdasarkan atas perilaku, dan
Humanistik berdasarkan pada kemampuan yang terdapat dalam diri setiap individu.
2. Aliran Psikoanalisa dan Behaviorisme memandang pesimistis
terhadap kodrat manusia yaitu manusia dianggap sakit / pincang menurut aliran
Psikoanalisa dan manusia dianggap tidak memiliki sikap jati diri menurut aliran
Behavioristik, sementara aliran Humanistik memandang optimistik terhadap kodrat
manusia yang menganggap bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk berbuat
lebih baik dan berkembang melampaui kekuatan – kekuatan negatif yang potensial
menghambat.
3. Dalam aliran Psikoanalisa dan Behavioristik, keduanya
mengabaikan segala potensi yang berada didalam diri individu, semntara aliran
Humanistik menganggap bahwa potensi dalam diri manusia merupakan sumber utama
untuk mewujudkan diri menjadi lebih baik lagi.
4. Aliran Psikoanalisa berpendapat bahwa manusia berasal dari
konflik masa kanak – kanak dan tekanan – tekanan biologis, sedangkan aliran
Behavioristik berpendapat bahwa manusia berasal dari suatu sitem kompleks yang
bertingkah laku menurut cara sesuai hokum yang ada, sementara menurut aliran
Humanistik mengatakan bahwa manusia berasal dari keinginannya untuk menjadi
lebih baik melalui kemampuan / potensi yang dimilikinya.
4. Pendapat Allport
Ø Allport ingin menghilangkan
kontradiksi-kontradiksi dan kekaburan-kekaburan yang terkandung dalam
pembicaraan-pembicaraan tentang diri dengan membuang kata itu dan
menggantikannya dengan suatu kata lain yang akan membedakan konsepnya tentang
“diri” dari semua konsep lain. Istilah yang dipilihnya adalah proprium dan
dapat didefinisikan dengan memikirkan bentuk sifat “propriate” seperti dalam
kata “appropriate”.
Propirum menunjukkan kepada sesuatu yang dimiliki seseorang atau unik bagi seseorang itu berarti bahwa proparium (atau self) terdiri dari hal-hal atau proses-proses yang penting dan bersifat pribadi bagi seorang individu, segi-segi yang menentukan seseorang sebagai yang unik. Allport menyebutnya “saya sebagaimana dirasakan dan diketahui”
Propirum menunjukkan kepada sesuatu yang dimiliki seseorang atau unik bagi seseorang itu berarti bahwa proparium (atau self) terdiri dari hal-hal atau proses-proses yang penting dan bersifat pribadi bagi seorang individu, segi-segi yang menentukan seseorang sebagai yang unik. Allport menyebutnya “saya sebagaimana dirasakan dan diketahui”
Ø Cir-ciri Kepribadian yang Matang Menurut Allport
Ada 7 tingkatan perkembangan proprium
1) Diri Jasmaniah
Kita tidak dilahirkan dengan suatu perasaan tentang diri, perasaan tentang diri bukan bagian dari warisan keturunan kita. Bayi tidak dapat membedakan antara diri (”saya”) dan dunia sekitarnya. Berangsur-angsur, dengan makin bertambah kompleksnya belajar dan pengalaman-pengalaman preseptual, maka akan berkembang suatu perbedaan yang kabur antara sesuatu yang ada ”dalam saya” dan hal-hal lain diluarnya”.
Kita tidak dilahirkan dengan suatu perasaan tentang diri, perasaan tentang diri bukan bagian dari warisan keturunan kita. Bayi tidak dapat membedakan antara diri (”saya”) dan dunia sekitarnya. Berangsur-angsur, dengan makin bertambah kompleksnya belajar dan pengalaman-pengalaman preseptual, maka akan berkembang suatu perbedaan yang kabur antara sesuatu yang ada ”dalam saya” dan hal-hal lain diluarnya”.
2) Identitas Diri
Pada tingkatan ke 2 perkembangan, muncullah perasaan identitas diri. Anak mulai sadar akan identitasnya yang berlangsung terus sebagai seorang yang terpisah.
Pada tingkatan ke 2 perkembangan, muncullah perasaan identitas diri. Anak mulai sadar akan identitasnya yang berlangsung terus sebagai seorang yang terpisah.
3) Harga Diri
Tingkat ke 3 dalam perkembangan proprium ialah timbulnya harga diri. Hal ini menyangkut perasaan bangga dari anak sebagai suatu hasil dari belajar mengerjakan benda-benda atas usahanya sendiri pada tingkat ini, anak ingin membuat benda-benda, menyelidiki dan memuaskan perasaan ingin tahunya tentang lingkungan, memanipulasi dan mengubah lingkungan itu.
Tingkat ke 3 dalam perkembangan proprium ialah timbulnya harga diri. Hal ini menyangkut perasaan bangga dari anak sebagai suatu hasil dari belajar mengerjakan benda-benda atas usahanya sendiri pada tingkat ini, anak ingin membuat benda-benda, menyelidiki dan memuaskan perasaan ingin tahunya tentang lingkungan, memanipulasi dan mengubah lingkungan itu.
4) Perluasan Diri (Self Extension)
Tingkat perkembangan diri berikutnya, perluasan diri, mulai sekitar usia 4 tahun, anak sudah mulai menyadari orang-orang lain dan benda-benda dalam lingkungannya dan fakta bahwa beberapa diantaranya adalah milik anak tersebut.
Tingkat perkembangan diri berikutnya, perluasan diri, mulai sekitar usia 4 tahun, anak sudah mulai menyadari orang-orang lain dan benda-benda dalam lingkungannya dan fakta bahwa beberapa diantaranya adalah milik anak tersebut.
5) Gambaran Diri
Gambaran diri berkembang pada tingkat berikutnya. Hal ini menunjukan bagaimana anak melihat dirinya dan pendapatannya tentang dirinya, gambara ini (atau rangkaian gambaran-gambaran) berkembang dari interaksi-interaksi antara orang tua dan anak.
Gambaran diri berkembang pada tingkat berikutnya. Hal ini menunjukan bagaimana anak melihat dirinya dan pendapatannya tentang dirinya, gambara ini (atau rangkaian gambaran-gambaran) berkembang dari interaksi-interaksi antara orang tua dan anak.
6) Diri Sendiri Pelau Rasional
Setelah anak mulai sekolah, diri sebagai prilaku rasional mulai timbul aturan-aturan dan harapan-harapan baru dipelajari dari guru-guru dan teman sekolah serta hal yang lebih ialah diberikannya aktivitas-aktivitas dan tantangan-tantangan intelektual.
Setelah anak mulai sekolah, diri sebagai prilaku rasional mulai timbul aturan-aturan dan harapan-harapan baru dipelajari dari guru-guru dan teman sekolah serta hal yang lebih ialah diberikannya aktivitas-aktivitas dan tantangan-tantangan intelektual.
7) Perjuangan Diri
Dalam masa adolesensi, kembangan diri (self hood) timbul, allport percaya bahwa masa adolesensi merupakan suatu masa yang sangat menentukan. Orang sibuk dalam mencari identitas diri yang baru, sangat berbeda dari identitas diri pada usia 2 tahun. Pertanyaan “siapakah saya” sangat penting.
Dalam masa adolesensi, kembangan diri (self hood) timbul, allport percaya bahwa masa adolesensi merupakan suatu masa yang sangat menentukan. Orang sibuk dalam mencari identitas diri yang baru, sangat berbeda dari identitas diri pada usia 2 tahun. Pertanyaan “siapakah saya” sangat penting.
Tujuan tingkat diri atau proprium ini berkembang dari masa
bayi sampai masa adolesensi. Suatu kegagalan atau kekecewaan yang hebat pada
setiap tingkat melumpuhkan penampilan tingkat-tingkat berikutnya serta menghambat
integrasi harmonis. Dari tingkat-tingkat itu dalam proprium dengan demikian
pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak sangat penting dalam perkembangan
kepribadian yang sehat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar