TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
1. Aliran
Humanistik
Teori
Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan
bagaimana memanusiakan manusia serta peserta didik mampu mengembangkan potensi
dirinya. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si
pembelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses
belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri
dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari
sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Pengertian
humanistik yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia
pendidikan mengundang berbagai macam arti pula. Sehingga perlu adanya satu
pengertian yang disepakati mengenai kata humanistik dalam pendidikan. Dalam
artikel “What is Humanistik Education?”, Krischenbaum menyatakan bahwa sekolah,
kelas, atau guru dapat dikatakan bersifat humanistik dalam beberapa kriteria.
Hal ini menunjukkan bahwa ada beberapa tipe pendekatan humanistik dalam
pendidikan. Ide mengenai pendekatan-pendekatan ini terangkum dalam psikologi
humanistik.
Kartono
dan Gulo (1987 : 207) menyatakan bahwa Psikologi humanistik adalah suatu
pendekatan terhadap psikologi yang menekankan usaha melihat orang sebagai
makhluk-makhluk yang utuh, dengan memusatkan diri pada kesadaran subjektif,
meneliti masalah-masalah manusiawi yang penting, serta memperkaya kehidupan
manusia.
Saam
(2010 : 60) menyatakan bahwa Teori Humanistik menyatakan bahwa tingkah laku
manusia ditentukan oleh bagaimana ia memandang diri dan dunia sekitarnya serta
ditentukan dalam diri sendiri. Dalam perspektif humanistik, guru harus
memperhatikan kebutuhan kasih sayang. Dalam pembelajaran, teori humanistik
memandang siswa lebih manusiawi, pribadi, dan berpusat pada siswa.
Dalyono
(2007 : 43) bahwa Perhatian psikologi humanistik yang terutama tertuju pada
masalah bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh
maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka
sendiri. Menurut para pendidik aliran humanistis penyusunan dan penyajian
materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa.
Sadulloh
(2006 : 173) menyatakan bahwa Psikologi humanistik menekankan kebebasan
personal, pilihan, kepekaan, dan tanggung jawab personal. Sebagaimana yang
dinyatakan secara tidak langsung oleh tema itu, psikologi humanistik juga
memfokuskan pada prestasi, motivasi, perasaan, dan kebutuhan akan umat manusia.
Tujuan pendidikan, menurut orientasi ini adalah aktualisasi diri individual.
Lebih
lanjut Sadulloh (2006 : 173) menyatakan bahwa Akhir dari perkembangan pribadi
manusia adalah mengaktualisasikan dirinya, mampu mengembangkan potensinya
secara utuh, bermakna dan berfungsi bagi kehidupan dirinya dan lingkungannya. Belajar
menurut pandangan humanistik merupakan fungsi dari keseluruhan pribadi manusia,
yang melibatkan faktor intelektual dan emosional, motivasi belajar harus datang
dari dalam diri anak itu sendiri. Proses belajar mengajar menekankan pentingnya
hubungan interpersonal, menerima siswa sebagai seorang pribadi yang memiliki
kemampuan, dan peran guru sebagai parsipan dalam proses belajar bersama.
Sudarsono
(1993 : 102) menyatakan bahwa Orang yang memiliki pandangan humanistik lebih
mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, masalah-masalah pokok-pokok utama dan
martabat kemanusiaan.
Dalam
artikel “some educational implications of the Humanistic Psychologist” Abraham
Maslow mencoba untuk mengkritisi teori Freud dan behavioristik. Menurut
Abraham, yang terpenting dalam melihat manusia adalah potensi yang dimilikinya.
Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia daripada
berfokus pada “ketidaknormalan” atau “sakit” seperti yang dilihat oleh teori
psikoanalisa Freud. Pendekatan ini melihat kejadian setelah “sakit” tersebut
sembuh, yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang
positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia
dan para pendidik yang beraliran humanistik biasanya memfokuskan penganjarannya
pada pembangunan kemampuan positif ini.
Kemampuan
positif di sini erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang terdapat
dalam domain afektif, misalnya ketrampilan membangun dan menjaga relasi yang
hangat dengan orang lain, bagaimana mengajarkan kepercayaan, penerimaan,
keasadaran, memahami perasaan orang lain, kejujuran interpersonal, dan
pengetahuan interpersonal lainnya. Intinya adalah meningkatkan kualitas
ketrampilan interpersonal dalam kehidupan sehari-hari.
Selain
menitik beratkan pada hubungan interpersonal, para pendidikan yang beraliran
humanistik juga mencoba untuk membuat pembelajaran yang membantu anak didik
untuk meningkatkan kemampuan dalam membuat, berimajinasi, mempunyai pengalaman,
berintuisi, merasakan, dan berfantasi. Pendidik humanistik mencoba untuk
melihat dalam spektrum yang luas mengenai perilaku manusia. “Berapa banyak hal
yang bisa dilakukan manusia? Dan bagaimana aku bisa membantu mereka untuk
melakukan hal-hal tersebut dengan lebih baik?
Melihat
hal-hal yang diusahakankan oleh para pendidik humanistik, tampak bahwa
pendekatan ini mengedepankan pentingnya emosi dalam dunia pendidikan. Freudian
melihat emosi sebagai hal yang mengganggu perkembangan, sementara humanistik
melihat keuntungan pendidikan emosi. Jadi bisa dikatakan bahwa emosi adalah
karakterisitik yang sangat kuat yang nampak dari para pendidik beraliran
humanistik. Karena berpikir dan merasakan saling beriringan, mengabaikan
pendidikan emosi sama dengan mengabaikansalah satu potensi terbesar
manusia. Kita dapat belajar menggunakan emosi kita dan mendapat keuntungan dari
pendekatan humanistik ini sama seperti yang kita dapatkan dari pendidikan yang
menitikberatkan kognisi.
Berbeda
dengan behaviorisme yang melihat motivasi manusia sebagai suatu usaha untuk memenuhi
kebutuhan fisiologis manuisa atau dengan freudian yang melihat motivasi sebagai
berbagai macam kebutuhan seksual, humanistik melihat perilaku manusia sebagai
campuran antara motivasi yang lebih rendah atau lebih tinggi. Hal ini
memunculkan salah satu ciri utama pendekatan humanistik, yaitu bahwa yang
dilihat adalah perilaku manusia, bukan spesies lain. Akan sangat jelas
perbedaan antara motivasi manusia dan motivasi yang dimiliki binatang. Hirarki
kebutuhan motivasi maslow menggambarkan motivasi manusia yang berkeinginan
untuk bersama manusia lain, berkompetensi, dikenali, aktualisasi diri sekaligus
juga menggambarkan motovasi dalam level yang lebih rendah seperti kebutuhan
fisiologis dan keamanan.
Menurut
aliran humanistik, para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan yang lebih tinggi
dan merencanakan pendidikan dan kurikukum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
ini. Beberapa psikolog humanistik melihat bahwa manusia mempunyai keinginan
alami untuk berkembang, untuk lebih baik, dan juga belajar. Jadi sekoah harus
berhati-hati supaya tidak membunuh insting ini dengan memaksakan anak belajar
sesuatu sebelum mereka siap. Jadi bukan hal yang benar apabila anak dipaksa
untuk belajar sesuatu sebelum mereka siap secara fisiologis dan juga punya
keinginan. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator yang membantu
siswa untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi, bukan sebagai
konselor seperti dalam Freudian ataupun pengelola perilaku seperti pada
behaviorisme.
Secara
singkatnya, penedekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada
perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk
mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan
tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk
pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan
hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau kemampuan membangun diri secara
positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya
dengan keberhasilan akademik.
Dalam
teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami
lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha
agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.
Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang
pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan
utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu
membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai
manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam
diri mereka.
2. Pendapat
Allport
Allport
memaparkan bahwa , pribadi yang sehat adalah pribadiyang matang, yaitu pribadi
yang tidak dikontrol oleh trauma dan konflik masa lalu. Pribadiini didorong ke
depan oleh suatu visi, dan visi itu mempersatukan kepribadiaannya
sertamembawanya melewati tantangan demi tantangan yang terus berubah.
Kebahagiaan bukanmerupakan tujuan utama. Kebahagiaan hanyalah merupakan hasil
sampingan dari prosesmencapai tujuan. Pribadi ini akan terus berusaha mencari
motif-motif dan tujuan baru begitutujuan lamanya tercapai. Kriteria kepribadian
yang matang adalah: perluasan perasaan diri,hubungan yang hangat dengan orang
lain, keamanan emosional, persepsi yang realistik, sertamemiliki
keterampilan dan kemampuan untuk melaksanakan tugas.
3. Pendapat
Rogers
Carl
Roger merupakan tokoh Teori Kepribadian Humanistik, Ia Lahir di Illinois (1902
– 1988) Ia adalah salah seorang peletak dasar dari gerakan potensi manusia,
yang menekankan perkembangan pribadi melalui latihan sensitivitas, kelompok
pertemuan, dan latihan lainnya yang ditujukan untuk membantu orang agar
memiliki pribadi yang sehat. sejak kecil Ia menerima penanaman yang ketat
mengenai kerja keras dan nilai agama Protestan. Kelak kedua hal ini mewarnai
teori-teorinya. Setelah mempelajari teologi, ia masuk Teacher’s College di
Columbia Uni, dimana banyak tokoh psikologi mengajar. Di Columbia Uni ia meraih
gelar Ph.D.Rogers bekerja sebagai psikoterapis dan dari profesinya inilah ia
mengembangkan teori Humanistiknya. Dalam konteks terapi, ia menemukan dan
mengembangkan teknik terapi yang dikenal sebagai Client-centered Therapy.
Ø Perkembangan
Kepribadian Self
Self
merupakan konstruk utama dalam Teori Kepribadian Rogers, yang saat ini dikenal
dengan Self Concept (konsep diri), Roger mengartikannya sebagai presepsi
tentang karakteristik “I” atau “me” dengan orang lain atau berbagai aspek
kehidupan, termasuk nilai-nilai yang terkait dengan persepsi tersebut.
Diartikan juga sebagai keyakinan “keyakinan tentang kenyataan, keunikan dan
kualitas tingkah laku diri sendiri”. Konsep diri merupakan gambaran mental
tentang diri sendiri, seperti “Saya cantik” dan “Saya seorang pelajar yang
rajin”.
Hubungan
antara self concept dengan organisme (actual experience) terjadi dalam dua
kemungkinan, yaitu “Congruance” atau “Incongruance”. Kedua kemungkinan hubungan
ini menentukan perkembangan kematangan penyesuaian (adjustment) dan kesehatan
mental (mental health) seseorang.
Sebagaimana
ahli Humanistik umumnya, Rogers mendasarkan teori dinamika kepribadian pada
konsep aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah daya yang mendorong
pengembangan diri dan potensi individu, sifatnya bawaan dan sudah menjadi ciri
seluruh manusia. Aktualisasi diri yang mendorong manusia sampai kepada
pengembangan yang optimal dan menghasilkan ciri unik manusia seperti
kreativitas, inovasi, dan lain-lain.
Ø Peranan
Positif Rogard dalam Pembentukan Kepribadian Individu
Rogers mengajarkan
bahwa individu yang sehat adalah individu yang sehat adalahindividu yang
berfungsi sepenuhnya, yaitu yang telah mencapai keselarasan antara diri
yangnyata (real self) dan diri yang dicita-citakan (ideal self). Jika ada
penggabungan anatara apa yang
orang rasakan tentang
bagaimana dirinya dan apa yang mereka inginkan, mereka mampumenerima dirinya
menjadi diri sendiri dan hidup sebagai diri sendiri tanpa konflik.
Ø Ciri-ciri
Orang yang Berfungsi Sepenuhnya
1. Adanya
keterbukaan pada pengalaman
Seseorang yang tidak
terhambat oleh syarat-syarat penghargaan, bebas untuk mengalamisemua perasaan
dan sikap. Tidak satu pun yang harus dilawan karna tidak ada satupunyang
mengancam. Jadi, keterbukaan pada pengalaman adalah lawan dari sikap
defensif.Setiap pendirian dan perasaan yang berasal dari dalam dan dari luar
disampaikan kesistem syaraf organisme tanpa rintangan.2.
2.
Berada dalam kehidupan eksistensial
Orang yang berfungsi
sepenuhnya,senantiasa hidup dalam momen kehidupan. Setiap pengalaman dirasakan segar dan baru. Sesuatu yang dialami seperti sebelumnya belum pernah ada, kemudian direspon dengan cara yang tidak persis sama. Maka dalam setiapmomen
kehidupan selalu ada kegembiraan, karen setiap pengalaman dapat
tersingkapsecara segar.
3.
Adanya kepercayaan terhadap organisme
diri sendiri
Prinsip ini mungkin
paling baik dipahami dengan menunjuk pada pengalaman rogers sendiri. Dia
menyatakan “ Apabila aktivitas seakan-akan berharga maka aktivitas
itu perlu dilakukan. Sebaliknya , jika suatu aktivitas
dirasa tidak berharga maka aktivitas itutidak perlu
dilakukan.Saya telah belajar bahwa seluruh perasaan organismik saya terhadap suatu
situasi lebih dapat dipercaya dari pada pikiran saya “
4.
Memiliki perasaan bebas
Rogers percaya semakin
seseorang sehat secara psikologis, maka semakin ia mengalamikebebasan untuk
memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebastanpa adanya
paksaan atau rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan.
5.
Senantiasa kreatif
Semua orang yang
berfungsi sepenuhnya sangat kreatif. Mengingat sifat-sifat yangmereka miliki,
sukar untuk melihat bagaimana seandainya kalau orang ini tidak demikiankreatif.
Menurut rogers orang-orang yang terbuka sepenuhnya kepada
semua pengalaman, yang percaya akan organisme mereka sendiri, yang fleksibel dalam
keputusn dan tindakannya, ialah orang-orang yang akan mengungkapkan diri
merekadalam produk-produk yang kreatif ,serta kehidupan yang kreatif dalam
semua bidangkehidupannya. Mereka bertingkah laku spontan, senantiasa berubah
,bertumbuh dan berkembang sebagai respons atas stimulus–stimulus
kehidupan yang beraneka ragam disekitar mereka.
4. Pendapat
Maslow
·
Hierarki Kebutuhan Manusia
Kita didorong oleh
kebutuhan-kebutuhan universal yang dibawa sejak lahir yang tersusun dalam suatu
tingkat dari yang paling kuat sampai yang paling lemah. Ibarat suatu tangga,
kita harus meletakkan kaki pada anak tangga pertama sebelum berusaha mencapai
anak tangga kedua, dan seterusnya, sampai kita mampu naik pada tingkat yang
paling tinggi. Dan kebutuhan-kebutuhan itu adalah
a.
Kebutuhan Fisiologis.
Kebutuhan
fisiologis adalah kebutuhan-kebutuhan yang jelas terhadap makanan, air, udara,
tidur, seks dan pemuasan terhadap kebutuhan-kebutuhan itu sangat penting untuk
kelangsungan hidup. Dan juga kebutuhan ini merupakan yang terkuat dan sifatnya
amat penting dari semua kebutuhan.
b.
Kebutuhan Akan Rasa Aman.
Kebutuhan-kebutuhan
ini meliputi kebutuhan-kebutuhan akan jaminan, stabilitas, ketertiban, bebas
dari ketakutan dan kecemasan. Kebutuhan akan rasa aman juga merupakan kebutuhan
untuk mendapatkan perlindungan agar dapat melangsungkan hidup dengan baik.
c.
Kebutuhan Akan Memiliki Cinta dan Kasih.
Kebutuhan
ini semacam layak untuk mendapatkan rasa cinta dan kasih sayang terhadap orang
lain, baik seperti orang tua, kakak, adik, sahabat, ataupun saudara dengan
tujuan agar merasakan perasaan memiliki. Kita memuaskan kebutuhan-kebutuhan
kita akan cinta dengan membangun suatu hubungan akrab dan penuh perhatian, dan
dalam hubungan ini memberi dan menerima cinta adalah sama pentingnya.
d.
Kebutuhan Akan Penghargaan.
Yaitu
penghargaan yang berasal dari orang lain dan juga terhadap diri sendiri.
Penghargaan yang berasal dari orang lain (dari luar) misalnya popularitas
ataupun keberhhasilan dalam masyarakat. Ada banyak cara juga supaya orang lain
bisa menghargai kita, menurut saya apabila dengan cara yang negatif, kita bisa
saja memamerkan serta gengsi kita dengan apa yang kita miliki, seperti
mengendarai mobil mewah yang kita miliki, membeli rumah besar, dsb. Kita tidak
dapat menghargai diri kita jika kita tidak mengetahui kita apa dan siapa.
e.
Aktualisasi diri.
Apabila
kita telah memuaskan semua kebutuhan diatas, maka kita didorong oleh kebutuhan
yang paling tinggi, yaitu aktualisasi diri. Aktualisasi diri dapat
didefinisikan sebagai perkembangan yang paling tinggi dan penggunaan semua
bakat kita, pemenuhan semua kualitas dan kapasitas kita. Kita harus bisa
menjadi menurut potensi yang kita miliki. Maslow menyebutkan apabila kita dapat
memuaskan kebutuhan kita dari tingkat yang rendah, kita masih merasa aman
secara fisik maupun emosional, mempunyai rasa memiliki dan juga merasa bahwa
kita adalah diri yang berharga. Namun apabila kita gagal dalam tahap
aktualisasi diri ini, maka kita akan merasa kecewa, tidak tenang dan tidak
puas. Dengan begitu, kita tidak akan berada dalam damai pada diri kita sendiri
dan tidak bisa dikatakan bahwa kita sehat secara psikologis.
·
Kepribadian yang Sehat Menurut maslow
Seperti
yang disebutkan diatas, menurut Maslow jika tingkat kebutuhan aktualisasi diri
tidak dapat terpenuhi, maka kita tidak bisa disebut sebagai manusia yang sehat
secara psikologis. Maslow juga menyebutkan bahwa orang yang sehat adalah orang
mampu mengaktualisasikan diri mereka dengan baik dan imbang, mereka juga dapat
memperhatikan kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi yaitu memenuhi potensi-potensi
yang mereka miliki serta mengetahui dan memahami dunia sekitar mereka.
Orang-orang yang mengaktualisasikan diri itu tidak berjuang, tetapi mereka
berusaha, Maslow menyebut teori ini dalam “metamotivation”. Ia juga menulis
“Motif yang paling tinggi ialah tidak didorong dan tidak berjuang”, itu berarti
memang orang yang mampu mengaktualisasikan diri tidak berjuang melainkan
berusaha.
Menurut
Maslow, syara untuk mencapai aktualisasi diri adalah memuaskan
kebutuhan-kebutuhan yang tadi tela disebutkan, yaitu memuaskan hierarki empat
kebutuhan yang ada, diantaranya yang pertama adalah kebutuhan akan fisiologis,
kebutuhan akan rasa aman, cinta kasih, serta penghargaan diri. Dan kebutuhan
ini harus terpenuhi sebelum timbul kebutuhan akan aktualisasi diri.
Kita
juga tidak membutuhkan kebutuhan-kebutuhan tersebut dalam waktu yang sama, akan
tetapi dapat membutuhkannya dalam waktu yang berbeda. Hanya kebutuhan yang
sangat penting yang akan dirasakan pada saat bersamaan dan dalam setiap momen
tertentu.
·
Perbedaan “Meta Needs” dengan “Deficiency
Needs”
Meta
needs (meta kebutuhan) merupakan keadaan-keadaan pertumbuhan kearah mana
pengaktualisasi-pengaktualisasi-diri bergerak. Maslow juga menyebut kebutuhan
tersebut B-values, dan B-values adalah tujuan dalam dirinya sendiri dan bukan
alat untuk mencapai tujuan lain, keadaan-keadaan ada dan bukan berjuang kearah
objek tujuan yang sifatnya khusus. Apabila keadaan-keadaan ini ada sebagai
kebutuhan-kebutuhan dan untuk memuaskan atau mencapai keadaan tersebut gagal,
maka akan menyakitkan, sama seperti kegagalan untuk memuaskan beberapa
kebutuhan yang lebih rendah.
Sedangkan Deficiency
needs, suatu kekurangan kebutuhan dimana individu tak dapat memenuhi
kebutuhannya, kebutuhan yang timbul karena kekurangan. Untuk memenuhi kebutuhan
ini diperlukan bantuan orang lain. Deficiency need ini meliputi:
kebutuhan jasmaniah, keamanan, memiliki dan mencintai serta harga diri. Dan
sifat-sifat dari deficiency needs adalah ketiadaannya menimbulkan penyakit,
keberadaannya mencegah timbulnya penyakit, pemulihannya menyembuhkan penyakit,
dalam situasi tertentu yang sangat kompleks dan di mana orang bebas memilih,
orang yang kekurangan kebutuhan akan mengutamakan pemuasan
kebutuhan ini dibandingkan jenis kepuasan yang lain. Serta kebutuhan ini tidak
aktif, lemah, atau secara fungsional tidak terdapat pada orang yang sehat.
·
Cirri-ciri Actualized People
1. Mengamati
Realitas Secara Efisien
Orang-orang yang
mengaktualisasikan diri dapat mengamati objek dan orang-orang didunia
sekitarnya secara objektif. Mereka tidak memandang dunia hanya sebagaimana yang
mereka inginkan atau butuhkan, tetapi mereka melihatnya sebagaimana adanya,
artinya mereka memandang dunia ini dengan nyata, apa adanya dan tidak menuntut
lebih. Sebaliknya, orang yang kepribadiannya tidak sehat, mengamati dunia
menurut ukuran-ukuran dari pandangan mereka sendiri, memaksa dunia untuk
mencocokannya dengan bentuk kebutuhan dan nilai-nilai mereka. Maslow menulis
bahwa “Orang yang neurotis secara emosional tidak sakit, tetapi secara kognitif
dia salah”.
2.
Penerimaan Umum atas Kodrat, Orang-orang
Lain dan Diri Sendiri
Orang-orang yang
mengaktualisasikan diri menerima diri mereka, kelemahan-kelemahan dan
kekuatan-kekuatan mereka tanpa keluhan atau kesusahan dan mereka tidak
terlampau banyak memikirkannya. Karena orang-orang sehat ini mampu menerima kodrat
mereka didunia, maka mereka tidak harus merubah ataupun memalsukan diri mereka,
mereka juga tidak bermuka dua untuk menutupi kelemahan mereka walaupun
orang-orang yang sehat juga banyak memiliki kelemahan dan keburukan.
3.
Spontanitas, Kesederhanaan, Kewajaran
Orang yang bisa
mengaktualisasi diri, bertingkah laku dengan terbuka dan langsung tanpa
berpura-pura. Mereka tidak harus menyembunyikan emosi-emosi mereka tetapi bisa
menunjukkannya dengan jujur, dan bertingkah laku sesuai realitas, tidak ada
yang ditutupi dan terbuka apa adanya serta berlaku sewajarnya.
4.
Fokus pada Masalah-masalah di Luar Diri
Mereka
Orang-orang yang
mengaktualisasikan diri yang dipelajari Maslow melibatkan diri pada pekerjaan.
Orang-orang ini memiliki suatu perasaan terhadap pekerjaan atau tugas yang
menjadi tanggungannya untuk mengabdikan energi mereka untuk pekerjaannya.
5.
Kebutuhan akan Privasi dan Indepedensi
Orang-orang yang
mengaktualisasikan diri juga memiliki suatu kebutuhan yang kuat untuk pemisahan
dan kesunyian, artinya mereka juga membutuhkan keadaan dimana mereka ingin
merasa sendiri dan tertutup. Walaupun mereka tidak menjauhkan diri dengan orang
lain, mereka juga terkadang tidak membutuhkan orang lain, mereka ingin
mengarahkan diri mereka kepada diri mereka sendiri, yang berarti juga mereka
memiliki kebutuhan untuk mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka
inginkan, mencapai sesuatu sesuai kemauan mereka, dan melakukan dorongan dengan
cara mereka sendiri.
6.
Apresiasi yang Senantiasa Segar
Orang-orang yang
mengaktualisasikan diri senantiasa mengahargai apresiasi-apresiasi,
pengalaman-pengalaman tertentu. Biarpun pengalaman-pengalaman seringkali
terulang, dengan suatu kenikmatan dan perasaan yang segar, maka apresiasi yang
didapat terasa menyenangkan.
7.
Pengalaman-pengalaman Mistik
Maslow menunjukkan
bahwa tidak semua pengalaman ini terjadi dengan sangat kuat, ada juga
pengalaman-pengalaman yang ringan. Dan yang ringan ini terkadang dapat terjadi
pada kita semua. Akan tetapi pada individu yang lebih sehat memiliki pengalaman
mistik lebih sering daripada orang biasa, bahkan mungkin bisa terjadi setiap
hari.
8.
Minat sosial
Individu yang sehat
memiliki rasa empati yang dalam terhadap hubungan sosialnya, juga keinginan
untuk membantu kemanusiaan. Mereka (individu yang mengaktualisasikan diri)
menyadari bahwa mereka berfungsi pada tingkat sosial yang lebih tinggi dan
mengetahui bahwa mereka dapat mencapai hal-hal dengan lebih baik, melihat dan
memahami hal-hal dengan lebih jelas.
9.
Hubungan Antarpribadi
Individu yang
mengaktualisasikan diri mampu membuat ataupun menjalin hubungan yang kuat
dengan orang lain daripada orang-orang yang memiliki kesehatan jiwa yang biasa.
Mereka bisa memiliki cinta yang lebih besar dan persahabatan yang lebih dalam
serta identifikasi yang sempurna terhadap individu-individu lain.
10.
Kreativitas
Kreativitas merupakan
suatu sifat yang diharapkan individu yang mengaktualisasikan diri. Mereka asli,
inventif, dan inovatif meskipun tidak selalu dalam pengertian menghasilkan
suatu karya tertentu. Maslow menyamakan kreativitas ini dengan daya cipta dan
daya khayal naif yang dimiliki anak-anak, suatu cara yang tidak berprasangka
dan langsung melihat kepada hal-hal tersebut.
5. Pendapat
Fromm
ü Pengertian
Dasar Teori Fromm
Dasar
teori Fromm hampir sama dengan Freud, Ia setuju dengan Freud yang menekankan
pentingnya motivasi, tetapi ia tidak sependapat bahwa motivasi itu pertama-tama
bersifat instingtif. Fromm berpendapat bahwa selain manusia terdorong untuk
memuaskan kebutuhan-kebutuhan organic, manusia juga terdorong menjadi masyhur
dan berkuasa, untuk cinta dan untuk merealisasikan cita-cita religius dan
humanistik.
Kebebasan
manusia yang semakin luas, menempatkan manusia merasa semakin kesepian, dengan
kata lain kebebasan menjadikan keadaan yang negatif di mana manusia-manusia
melarikan diri.
Manusia
selalu berusaha memecahkan kontradiksi-kontradiksi yang ada padanya. Maksudnya
bahwa seorang pribadi merupakan bagian sekaligus terpisah dari alam; merupakan
binatang, dan sekaligus manusia.
Aspek
individu, yakni aspek binatang dan aspek manusia merupakan kondisi-kondisi
dasar eksistensi manusia, yang berasumsi bahwa, “pemahaman tentang psikhe manusia
harus berdasarkan manusia tentang kebutuhan manusa yang berasal dari
kondisi-kondisi eksistensinya.
Kepribadian
orang akan berkembang menurut kesempatan yang diberikan kepadanya oleh
masyarakat tertentu.
Sebagai
manusia tidak lepas dari pasangan tipe karakter nekrofilus danbiofilus.
Nekrofilus adalah orang yang tertarik pada kematian, sedangkanbiofilus adalah
orang yang mencintai kehidupan.
Sekarang
ini lima tipe masyarakat sudah sdemikian menggenjala, berbeda dengan masa-masa
sebelumnya, seperti reseptif, eksploitatif, penimbunan, pemasaran, dan
produktif.
ü Kepribadian
yang Sehat Menurut Fromm
Fromm
memberikan suatu gambaran jelas tentang kepribadian yang sehat. Orang yang
demikian mencintai seutuhnya, kreatif, memiliki kemampuan-kemampuan pikiran
yang sangat berkembang, mengamati dunia dan diri secara obejektif, memiliki
suatu perasaan identitas yang kuat, berhubungan dengan dan berakar di dunia,
subjek atau pelaku dari diri dan takdir, dan bebas dari ikatan-ikatan sumbang.
Fromm
menyebutkan kepribadian yang sehat: orientasi produktif , yakni
suatu konsep yang serupa dengan kepribadian yang matang dari Allport, dan orang
yang mengaktualisasikan diri dari Maslow. Konsep itu menggambarkan penggunaan
yang sangat penuh atau realisasi dari potensi manusia. Dengan menggunakan kata
“orientasi” , Fromm menunjukan kata itu merupakan suatu sikap umum atau segi
pandangan yang meliputi semua segi kehidupan, respons-respons intelektual,
emosional, dan sensoris terhadap orang-orang, benda-benda, dan
peristiwa-peristiwa di dunia dan juga terhadap diri sendiri.
Empat
segi tambahan dalam kepribadian yang sehat dapat membantu menjelaskan apa yang
dimaksudkan Fromm dengan orientasi produktif. Keempat segi tambahan itu adalah
cinta yang produktif, pikiran yang produktif, kebahagian dan suara hati.
Cinta
yang produktif adalah suatu hubungan manusia yang bebas dan sederajat
dimana rekan-rekan dapat mempertahankan individualitas mereka. Tercapainya
cinta yang produktif merupakan salah satu dalam prestasi-prestasi kehidupan
yang lebih sulit. Kita tidak “jatuh” dalam cinta; kita harus berusaha sekuat
tenaga karena cinta yang produktif menyangkut empat sifat yang menantang –
perhatian, tanggung jawab, respek, dan pengetahuan.
Pikiran
yang produktif meliputi kecerdasan, pertimbangan, dan objektivitas.
Pemikir yang produktif didorong oleh perhatian yang kuat terhadap objek
pikiran. Pemikir yang produktif dipengaruhi olehnya dan memperhatikannya.
Kebahagian adalah
suatu bagian integral dan hasil kehidupan yang berkenaan dengan orientasi
produktif; kebahagian itu menyertai seluruh kegiatan produktif. Fromm
menuliskan bahwa suatu perasaan kebahagian merupakan bukti bagaimana
berhasilnya seseorang “dalam seni kehidupan”. Kebahagian merupakan prestasi
kehidupan yang paling luhur.
Suara
hati memiliki dua tipe, yakni suara hati otoriter dan suara hati
humanisti. Suara hati otoriter adalah penguasa yang berasal dari luar yang di
internalisasikan, yang memimpin tingkah laku orang itu. Sedangkan suara hati
humanistis ialah suara dari dalam diri dan bukan juga dari suatu perantara dari
luar diri. Pendoman kepribadian sehat untuk tingkah laku bersifat internak dan
individual. Orang bertingkah laku sesuai dengan apa yang cocok untuk berfungsi
sepenuhnya dan menyikapi seluruh kepribadian, tingkah laku-tingkah laku yang
menghasilkan seluruh persetujuan dan kebahagian dari dalam. Kesehatan jiwa
dalam pandangan Fromm di tetapkan oleh masyarakat, karena kodrat struktur
sosial membantu atau menghalangi kesehatan psikologis. Apabila
masyarakat-masyarakat yang sakit, maka satu-satunya cara untuk mencapai
orientasi produktif ialah dengan hidup dalam suatu masyarakat yang waras dan
sehat, yaitu masyarakat yang memajukan produktivitas.
ü Ciri-ciri
Kepribadian Sehat
1. Mampu
mengembangkan hidupnya sebagai makhluk sosial di dalam masyarakat.
2. Mampu
mencintai dan dicintai.
3. Mampu
mempercayai dan dipercayai tanpa memanipulasi kepercayaan itu,
4. Mampu
hidup bersolidaritas dengan orang lain tanpa syarat.
5. Mampu
menjaga jarak antar dirinya dengan masyarakat tanpa merusaknya.
6. Memiliki
watak sosial yang produktif.
http://belajar.dedeyahya.web.id/2011/05/makalah-teori-kepribadian-humanistik.html http://www.academia.edu/4457512/Elizabeth_Jenny_Rosalina_30111044_model_kepribadian_sehat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar